English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Showing posts with label Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah. Show all posts

Wednesday, January 30, 2013

Realitas Semu: Penantian Akan Penghakiman

Realitas politik adalah bahwa dunia sedang berada dalam peperangan yang tak pernah berhenti sejak Qabil membunuh saudaranya sendiri, Habil. Ini adalah konsep sempurna yang dibuat Tuhan untuk menjelaskan bahwa dosa terbesar yang dilakukan umat manusia di muka bumi adalah saling membunuh.

Tengoklah Afrika, dimana kekerasan sipil di Aljazair tak pernah berhenti antara GIA, kelompok-kelompok jihad, dan yang lainnya. Di Mesir, perang sipil yang sama menentang rezim yang berkuasa saat itu berlangsung bertahun-tahun. Di Asia, Cina sebagai negara komunis terbesar di dunia memaksakan pengaruh dan tekanan pada Tibet dan Taiwan agar tidak berada pada jalur disharmoni dengan konsep-konsep komunisme mereka. Di perbatasan India-Pakistan, wilayah Kashmir bukanlah tempat yang nyaman untuk ditinggali. Di Eropa, kekerasan sektarian PIRA dan IRA di Irlandia telah membunuh ribuan keluarga tak berdosa. Di Irlandia Utara, Katolik dan Protestan nyaris tak pernah bersatu karena ideologi dipaksakan berbaur ke dalam wilayah politik. Di Amerika Latin, pertikaian lebih banyak disebabkan oleh masalah ekonomi. Perdagangan narkoba ternyata mampu menghidupi jutaan keluarga, hingga membuat usaha ini membangun komunitas dan paramiliter untuk mengawal pundi-pundi kerajaan bisnis mereka. Di Kolombia dan Meksiko, kekerasan dan perang karena perdagangan heroin merupakan kejahatan yang paling banyak membunuh warga mereka. Di Timur Tengah, suku kurdi dan PKK terus menerus meracau perbatasan Turki dan Irak, menimbulkan gejolak regional antara kedua negara. Di Irak ada masalah yang sama, namun akar perang di negeri itu adalah intervensi Amerika yang tidak dapat diterima akal sehat. Bukan semata karena masalah ekonomi, namun juga masalah teologi, satu hal yang disebut Bush sebagai Perang Salib II. Di Afganistan, persoalannya hanya berpindah tangan, penggerak invasi ke negeri itu diambil alih Amerika Serikat dari Uni Soviet. Dan yang paling memprihatinkan tentu saja adalah perang abadi antara Israel dan Palestina demi perebutan wilayah dan eksistensi antara tiga agama suci Islam, Kristen, dan Yahudi di tanah surga. Selain itu semua, Korea Utara, Iran, Suriah, Kuba dan Venezuela mengantri di barisan terdepan untuk memercikkan api.

Perang, perang, perang.... Tahukah Anda kalau ini semua tidak berlangsung secara kebetulan? Perang diciptakan oleh orang-orang yang disebut sebagai The Warlords, segelintir pemain senjata yang didukung kekuatan dana dari Pemilik Modal Internasional. Industri persenjataan adalah salah satu industri termahal di dunia. Mereka yang bermain di dalam industri ini memiliki kekayaan untuk membeli planet-planet. Karena itu, perang perlu direkayasa. Carilah bibit konflik, hasut satu kelompok, bisikkan api ke telinga kelompok lainnya, tanamkan doktrin ego kelompok dan ras, entitas kebanggaan sebagai suku atau bangsa, kepribadian kompleks, apapun namanya. Gunakan media untuk menyalurkan berbagai macam fitnah, lalu selundupkan senjata dan biarkan mereka saling bunuh. Selamat datang. Selamat datang di dunia belantara. Perang diperlukan, karena perang adalah uang.

Realitas alam dan lingkungan adalah kehancuran fisik bumi. Karena isu pemanasan global yang menjadi bahasan paling hangat sejak awal abad millenium ini. Film An Inconvenient Truth begitu menyesakkan dada ketika Al Gore memaparkan secara detil apa yang akan dihadapi bumi kecil ini dalam beberapa tahun ke depan. Ketika sebagian es Greenland dan Antartika mencair beberapa tahun kemudian, maka hampir seratus juta orang di Shanghai, Beijing, dan sekitarnya akan tenggelam. Kalkuta dan Bangladesh bagian timur, di mana enam puluh juta jiwa hidup dan bermukim di sana, akan kehilangan tempat tinggal. Belanda akan mengalami nasib yang sama dengan Atlantis, hilang dari peta dunia. Manhattan terapung tak berdaya, teluk San Fransisco menjadi kolam raksasa dan ratusan pulau di Indonesia lalu bersama angin.

Selain itu, ceruk ekologi tidak lagi mampu mengikuti perubahan ekosistem yang menyalahi aturan alam. Mengakibatkan pemusnahan hewan-hewan seribu kali lebih banyak daripada kepunahan secara alami. Bangunan-bangunan kaca seperti The Mosaic sengaja sengaja dibangun untuk merusak atmosfer di atas langit Amerika oleh kelompok-kelompok tertentu. Karena pada dasarnya kehancuran bumi ini memang dipercepat. Mengapa? Karena begitulah mereka menginginkannya.

Realitas kependudukan termasuk di dalam masalah lingkungan. Sepanjang kehidupan manusia, diperlukan waktu lebih dari tujuh ribu tahun untuk mencapai tingkat populasi enam milyar orang. Namun lihatlah, berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk membuat bumi kita disesaki separuh lagi dari jumlah populasi dunia saat ini? Sepuluh hingga lima belas tahun ke depan! Perkiraan demografis dan ramalan statistik menyebutkan bahwa pada tahun 2025 penduduk dunia akan mencapai angka sembilan milyar orang. Tujuh ribu tahun untuk mengumpulkan enam miliar mahluk-mahluk ini dan satu dekade ke depan lagi untuk tiga miliar bayi-bayi baru. Ada yang aneh dalam proses biologi kita.

Dari dulu hingga sekarang, masa kehamilan tetap sembilan bulan. Namun mengapa kaum perempuan seolah-olah menjadi pabrik manusia-manusia baru? Tekanan populasi meningkatkan permintaan pada makanan, air minum, kebutuhan-kebutuhan pokok, dan lain sebagainya. Dan bumi kita nyaris tak lagi dapat menahan beban itu. Ia telah memberikan segalanya, hutan, air, kebun, tanah, mineral.

Realitas ekonomi adalah kehancuran sistem moneter ribawiah yang dipelopori Amerika Serikat serta sebagian besar negara di dunia. Budaya kapitalisme hanya mampu bertahan dua abad, sebelum rontok sebagai daun yang berguguran. Karena publisitas kapitalisme dikuasai oleh segelintir investor pemilik modal yang bermain rapi di puncak gunung, mengusung demokrasi liberal dengan penuh tipu daya. Amerika Serikat telah mengendalikan ekonomi lebih dari dua pertiga penduduk dunia. IMF, WTO, Bank Dunia, dan segala macam badan keuangan yang dibentuk untuk memberikan bantuan kepada negara-negara berkembang dan dunia ketiga selama puluhan tahun tidak memberikan dampak apapun kepada kepentingan negara yang bersangkutan.Liberalisasi perdagangan diatur oleh undang-undang yang mengisap darah negara dengan sumber daya kaya, seperti minyak di Irak, emas di Afrika Selatan, kopi di Brazil, dan segala sumber daya di Indonesia. Hingga sampai pada batas dimana para vampir itu harus memaksakan keinginannya dalam pengelolaan hak ekonomi negara lain. Dan akhirnya perang pun dikobarkan dan siklus berputar.

Perang tentu saja menyulut anggaran yang besar. Dua perang dunia yang diciptakan dengan pola kejatuhan ekonomi menjadi saksi sejarah pembunuhan terbesar umat manusia. Ketika Amerika tidak bisa memenangkan perang melawan segelintir mujahid Irak saat itu, maka dampak terbesar kejatuhan bangsa itu dimulai dengan mengeroposnya anggaran dalam negeri. Sektor-sektor vital seperti kredit perumahan dan otomotif menjadi macet dan amburadul. Enron adalah sebuah perusahaan keuangan raksasa yang telah memberikan contoh bagaimana manajemen keuangan jatuh pada kehancuran yang teramat cepat ketika dikelola bersama resiko yang mereka sebut sebgai efek bubble.

Efek bubble hanyalah sebuah fantasi. Seratus persen ribawiah. Amerika adalah Enron besar yang saat ini berdiri sempoyongan menunggu badai yang lebih kencang sebelum tumbang dan menutup buku sejarah peradaban.

Jika Anda bisa meluangkan waktu sejenak untuk mengamati beberapa realitas yang saat inisedang terjadi dan sedang bergerak dengan cepat menuju titik klimaks, maka Anda akan memahami bahwa apa yang sedang dihadapi umat manusia sabuah pola yang didesain dengan begitu indah oleh Tuhan dan digerakkan oleh tangan-tangan manusia. Kita sedang mengisi kepingan terakhir dari puzzle peradaban, mencocokkan satu peristiwa dengan peristiwa yang lain, menghubungkan setiap kejadian, menata kerusakan kemudian menghancurkannya lagi, dan berpikir, 'Gambar apakah yang dibentuk oleh permainan ini ketika kepingan terakhir kita taruh di tempat terakhir?'

Setiap realitas merupakan peristiwa-peristiwa pendukung yang bergerak bersama-sama dengtan kerusakan itu sendiri menuju sebuah kehancuran yang sempurna. Pada akhirnya, realitas sesungguhnya harus dikembalikan kepada sebuah model yang disebut 'keyakinan'.

Agama adalah patok terakhir yang paling esensial dari keberadaan umat manusia di muka bumi. Baiklah, alam semesta akan marah, para politikus membuat kebijakan perang yang dianggap stimulus ekonomi, aktifis lingkungan yang meneriakkan protes yang tenggelam bersama limbah dan asap pabrik, entitas sosial tidak bertindak ketika pornografi menyerang rumah-rumah mereka melalui televisi, film dan internet, dan dikonsumsi oleh anak-anak mereka, para tentara diberi hak internasional untuk tidak dapat dihukum karena membunuh, para ekonom hanya mampu berteori sementara investasi tipuan membuat pemain kecil di sektor riil terdesak oleh gurita-gurita kapitalis dalam gerbong kereta yang hanya memberika piliha, 'ikut bersamaku atau kulempar keluar'. Maka, setiap peristiwa memiliki satu kepingan sendiri. Strukturnya dibuat sesuai dengan kepingan lain disebelahnya. Karena itu pula dapat ditaruh di tempat yang berdampingan dan saling melengkapi.

Bila kita kembali pada agama, maka sejarah tidak akan berarti banyak Karena sejarah ditulis oleh pemenang. Seringkali para pemenang merekayasa sejarah demi kepentingan anak cucu mereka di masa depan. Ingatlah, bahwa sejarah tidak abadi. Ia hanya rangkaian huruf yang bercerita bagaimana mahluk yang bernama manusia membangun sebuah peradaban yang indah dan kemudian menghancurkannya. Membangunnya lagi, lalu meruntuhkannya kembali. Begitu seterusnya dan membiarkan siklus berputar. Setelah tujuh ribu tahun, manusia modern tidak lebih pentar daripada homo sapiens purba. Kerusakan yang sama, pembunuhan yang sama, kekerasan yang sama. Yang berbeda hanya jumlah darah yang tertumpah membasahi bumi ini yang membuat bumi kita terus menangis.

Hakekatnya, semestinya hanya ada satu agama yang mewakili umat manusia di muka bumi ini. Agama yang sama yang dibawa Musa, Isa, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan utusan Tuhan lainnya. Satu agama yang tidak menyembunyikan kebenaran dan menyebarkan dusta. Satu agama yang memberikan ketenangan dimana manusia bisa menyembah Tuhannya karena mensyukuri atas apa yang diberikan-Nya. Realitasnya, ada ratusan agama di muka bumi ini. Sebagian besar timbul karena pemahaman yang salah akan sejarah, dan selebihnya karena budaya pengkultusan benda-benda alam atau budaya kebodohan.

Tibalah saatnya nanti, ketika semua manusia dikumpulkan dihadapan-Nya. Hingga tiba perkataan Tuhan yang memojokkan mereka di kemudian hari, "Untuk apa kalian berbuat kerusakan, kesombongan, tipu daya, dan keserakahan, jika tempat kembali kalian hanya kepada-Ku juga?"

Allahu a'lam. Semoga Allah menjagaku dari kata-kataku.

Risalah Inspirasi;
1. The Greatest Design, Zaynur Ridwan
2. Wikipedia.org
3. Dokumen Pribadi

Friday, January 18, 2013

Rahmat Air: Ketika Kesadaran Dihentikan Realita

Mungkin terkesan antagonistik pada judul yang saya beri atas tulisan saya ini. Saya menggabungkan kata 'rahmat' dengan 'realita', padahal air merupakan 'musuh' utama kita saat ini. Tapi inilah yang saya pahami. Jakarta, yang katanya kota yang tak berhenti berdenyut, kini lumpuh tak berkutik di hadapan 'kawan lama' nya ini. Saat ini, perekonomian Jakarta benar-benar lumpuh. Mulai dari presiden sampai penghuni residen kumuh. Mulai dari pedagang asongan sampai pekerja kantoran. Mulai dari sekolahan hingga transportasi. Semuanya berhenti.

Kali ini, kesadaran publik benar-benar diberhentikan realita. Kesadaran publik benar-benar diuji. Kesadaran publik benar-benar dinanti. Air, seolah menjadi hantu yang menakutkan bagi tiap warga Jakarta.

Duh. Air.

Sepertinya, saat ini dialah yang banyak dipersalahkan. Benar?
Namun, ada yang sedikit menggelitik di benak saya jika membayangkan sebuah realita ini. Saya sangat ingat betul, beberapa bulan yang lalu, ketika musim kemarau.

Menyedihkan.

Ketika kekeringan dahulu. Aduh duh. Kekeringan dan matinya sumber-sumber air menjadi pemandangan panjang. Negeri yang termasuk memiliki curah hujan tinggi ini berkutat dengan pemanasan. Belum lagi kebakaran infrastruktur sosial maupun hutan-hutan lindung. Maka musibah banjir di satu musim dan musibah kekeringan dan kebakaran di musim lain seperti menjadi ciri utama bagi masyarakat Indonesia. Ketika banjir terjadi, saling tuding-menuding terjadi, curah hujan yang tinggi sebagai penyebab utama lah, sehingga hujan tidak dirasa sebagai rahmat Allah bagi hamba-Nya yang menghuni negeri yang amat subur ini dan sebaliknya jika kekeringan dan kebakaran terjadi Allah yang menjadi tertuduh pertama karena tertundanya turun hujan.Saling melempar kesalahan dan tanggung jawab selalu mewarnai silang sengketa masyarakat terhadap fenomena sosial yang menyedihkan ini. Lucu memang.

Lalu, sejumlah pertanyaan muncul di benak saya. Bukankah hujan adalah rahmat Tuhan? Lalu mengapa air yang dipermasalahkan? Apakah kita sendiri yang membeli bencana ini dengan maksiat yang kita perbuat? Akhir tahun kita berpesta pora bak tak ingat akhirat. Awal tahun kita merana meradang dan saling menyalahkan. Apakah Tuhan mulai bosan dengan tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa? Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita? Itu kata Ebiet G. Ade. Apakah ini hukuman?

Tapi kukatakan lantang. Tidak. Tuhan tidak pernah bosan dengan kita, kekasih Tuhan.

 "Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan Sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya."
(QS. al-Mu'minun [23]: 18)


Hujan itu rahmat. Ya. Tapi, hati-hati ketika air menuntut haknya. Ketika air menuntut area untuk meresap, ketika air menuntut tempat untuk mengalir. Ini bukan "God Error", musibah banjir adalah murni human and social error, kesalahan manusia dan kesalahan sosial, kesalahan lingkungan sosial yang tidak akrab dengan ekosistem. Curah hujan tetaplah sebagai rahmat Allah untuk alam semesta. Sayang penghuni alam semesta ini (utamanya manusia) menolaknya dengan berbagai cara.

Paling tidak, ada beberapa 'hak' air yang dizhalimi oleh manusia;
1. Penolakan masyarakat terhadap penyerapan air hujan oleh bumi. Pembangunan infrastruktur sosial yang tidak ramah lingkungan. Penutupan (pemampetan) akibat hampir semua permukaantanah di floor dengan semen atau aspal, sehingga air hujan hanya menggenang untuk waktu yang lama tanpa mampu meresap ke dalam tanah, kecuali kalau ada celah-celah bangunan atau jalan yang rusak.

2. Penutupan dan pengalih fungsi situ-situ resapan air untuk mall dan bangunan-bangunan ekonomi kapitalistik maupun untuk komplek-komplek perumahan baru, baik elite maupun Perumnas. Hal ini mengakibatkan tidak terserapnya air hujan atau sebaliknya terjadi genangan banjir baik di tempat itu ataupun di tempat lain yang lebih rendah.

3. Kesadaran rendah terhadap arti kebersihan bagi sebuah lingkungan sosial yang sehat. Pembuangan sampah di sembarang tempat menjadi penyebab utama tersendatnya aliran air limbah maupun air hujan ke tempat semestinya, bak sampah terbesar di seluruh dunia ternyata adalah sungai-sungai di sekitar kita.

4. Salah urus pembuatan banjir kanal sebagai sistem pengaturan air yang mestinya membawa kemaslahatan ini diperparah oleh kenekatan penduduk yang beramai-ramai tinggal di kawasan bantaran sungai.

5. Penebangan dan bahkan penggundulan hutan yang membabi-buta untuk tujuan-tujuan ekonomis sesaat. Sehingga salah satu fungsi hutan sebagai tempat resapan airpun menjadi hilang dan tidak bermakna, maka daerah-daerah pedalaman pun sekarang menjadi sangat akrab dengan banjir dan bahkan dengan tanah longsor.

Saya mencoba meletakkan masalah pada tempatnya. Penghujatan kita terhadap orang lain, pemerintah, terhadap fenomena ini benar-benar menjadi tamparan bagi kita yang kesadarannya dialihkan realitas. Ingin berubah namun susah diatur. Ingin bebas banjir namun membuang sampah sembarangan. Ingin bebas macet namun egoisme mengalahkan kebersamaan, transportasi umum tak ada gunanya.

Inilah realitas tanpa kesadaran. Kita seolah hidup di dunia belantara. Primitif. Banyak impian namun tetap terlena dalam tidur panjang.

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." 
(QS. ar-Rum [30]: 41) 

Menarik sekali kita mencermati penghujung ayat di atas "agar mereka kembali". Potongan ayat ini mengisyaratkan harus adanya solusi sosial atas musibah yang menimpa masyarakat (dalam hal ini musibah banjir). Menjalani kehidupan sosial yang sadar etika lingkungan alam dan lingkungan sosial serta pandai memahami ayat-ayat kauniyah yang berlaku atas alam semesta ini sebagai wujud kembali kepada kebenaran Allah Ta'ala. Perilaku sosial yang merusak harus dihentikan, siapapun pelakunya. Sikap acuh terhadap perilaku, menyimpang ini hanya akan menebar bencana demi bencana yang mungkin akan menjadi sejumlah lingkaran setan persoalan sosial yang tidak teratasi.

Kini. Kesadaran kita terhadap lingkungan selanjutnya benar-benar akan diuji. Mulailah. Karena bisa jadi, air akan kembali menuntut haknya.

Kesadaran kita akan dipertaruhkan.

Allahu a'lam.

Thursday, January 10, 2013

Analogi Sinergi Umat: Berjamaah Yang Mencerdaskan III

Oh, sudah edisi yang ketiga yaa? -hehe

Kita tak henti-hentinya diajak untuk terus belajar, belajar akan ilmu yang Allah sediakan meliputi langit dan bumi beserta komponen penyusunnya. Jiwa ini adalah jiwa perindu. Jiwa ini merindukan ilmu, kini jiwa ini merindukan surga.

Baiklah. Kini kita akan belajar dari lebah. Ya, lebah.

"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: 'Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia.' Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan." (QS. an-Nahl [16]: 68-69)

Allah menganugerahkan kemampuan yang luar biasa pada mahluk ini. Mereka hidup dalam komunitas sosial yang teratur dan terorganisir dengan baik. Sinergi mereka saling mengokohkan. Sinergi mereka saling menguatkan. Mereka adalah kekuatan alam yang bersama, berjamaah. Jumlah koloni atau masyarakatnya antara 30.000 sampai 80.000 ekor. Ada lebah ventilator yang menjaga ventilasi sarang lebah. Mereka bertugas menjaga kelembaban sarang, yang membuat madu memiliki kualitas perlindungan tinggi. Suhu sarang harus setidaknya 35 derajat Celsius selama sepuluh bulan pada tahun tersebut. Pada kelembaban di atas atau di bawah batas ini, madu akan rusak serta kehilangan kualitas perlindungan dan gizinya.

Propolis. Adalah nama zat yang dikeluarkan lebah yang bertugas menjaga sarang dari zat-zat lain yang akan masuk. Jika ada zat asing atau serangga yang memasuki sarang, secara bersama sama lebah akan membentuk sistem pertahanan dengan mengeluarkan propolis tersebut.

Sarang yang dibangun lebah dapat menampung 80.000 lebah yang hidup dan bekerja bersama-sama. Sarang tersebut dibangun atas sarang madu berdinding lilin lebah, dengan ratusan sel-sel kecil pada kedua permukaannya. Semua sel sarang madu berbentuk segi enam sama persis, hexagonal. Menurut para ahli, pembentukan sarang dengan bentuk hexagonal seperti adalah cara yang terbaik dan efektif sebagai sebuah tempat untuk menyimpan makanan dan memelihara lebah muda. Karena setiap sisi akan terisi dan menempel pada sisi yang lainnya. Keajaiban teknik ini adalah buah pencapaian melalui kerja kolektif ribuan lebah.

MaasyaAlllah. Tak ada apapun yang mengajari mereka, kecuali Allah-lah yang telah mengilhami mereka sehingga berada dalam keteraturan seperti itu.

Oh tidak tidak. Tentu saja tidak hanya itu. Kerjasama yang harmonis juga terlihat ketika seekor lebah menemukan nektar atau cairan manis yang terdapat pada bunga. Ia akan kembali ke sarang untuk memberi tahu lebah lain. Informasi itu ia sampaikan dengan tarian. Ya, tarian yang indah. Tarian yang diulang-ulang mengandung semua informasi tentang sudut, arah, jarak, dan informasi lain tentang sumber makanan, sehingga lebah lain dapat mencapai tempat itu. Sebuah sinergi yang luar biasa!

Lebah madu dapat mengetahui kalau bunga yang ia temui telah didatangi dan diambil nektarnya lebih dahulu oleh lebah lain, sehingga ia segera meninggalkannya. Langkah ini menjadikan ia mampu menghemat waktu dan tenaganya.

Lalu, bagaimana? Bagaimana seekor lebah bisa tahu jika bung tersebut sudah diambil nektarnya?

Ini terjadi karena lebah yang mendatangi bunga terlebih dahulu menandainya dengan tetesan berbau khas. Begitu seekor lebah mengunjungi bunga yang sama, ia akan mencium bau tersebut dan mengetahui bahwa bunga tersebut sudah diambil madunya. Lagi-lagi merupakan lukisan kerja sinergi yang mengagumkan. MaasyaAllah!

Sama seperti semut (Baca: Analogi Sinergi Umat: Berjamaah Yang Mencerdaskan II), di dalam koloni lebah terdapat lebah ratu. Lebah ratu adalah pemimpin dari para lebah. Tugasnya adalah menghasilkan generasi-generasi terbaik yang akan meneruskan perjuangan mereka. Lebah jantan akan mati setelah melakukan tugasnya untuk membuahi lebah ratu.

Kehebatan Lebah;
Berjamaah itu Mencerdaskan. Berjamaah adalah sebuah keniscayaan. Sinergi dan kebersamaan adalah sebuah keteraturan. Sinergi tanpa kebersamaan akan bernilai kosong, namun kebersamaan tanpa sinergi adalah kebodohan.

Ayat 68-69 surat an-Nahl, yang saya kutip di atas, yang berbicara tentang lebah itu diakhiri dengan firman-Nya: 'Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang berpikir'. Kini, keputusan ada di tangan kita. Bersediakah kita berpikir lalu meneladani bagaimana lebah bersinergi? Semoga.

Allahu a'lam..

---------------------------------------------------------------------------------------------

 Daftar Pustaka;
1. Menyingkap Rahasia Akan Semesta, Harun Yahya
2. Prophetic Learning, Dwi Budianto
3. Wikipedia.org
4. Youtube.com

Sunday, January 06, 2013

Analogi Sinergi Umat: Berjamaah Yang Mencerdaskan II

Kita kembali diajak untuk terus belajar. Kita kembali diajak belajar dari ayat kauniyahnya Allah. Ya, alam semesta ini. Tidakkah engkau memikirkannya, kawanku?

Marilah kita belajar dari semut. Ya, komunitas semut. Jika kita amati, al-Qur'an memberikan perhatian khusus terhadap semut. Bahkan, surat ke-27 dalam al-Qur'an dinamai sebagai surat an-Naml yakni surat semut. Uraian tentang semut dalam al-Qur'an berkaitan dengan kehadiran Nabi Sulaiman 'alayhis-salam bersama pasukan beliau menelusuri jalan dimana terdapat banyak tempat koloni semut. Ratu semut lalu menginformasikan bahaya itu pada masyarakatnya, sebagaimana dikisahkan al-Qur'an;

"Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari; maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo'a: "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni'mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh."
(QS. an-Naml: 18-19)

Sejumlah pakar menjelaskan adalah komunitas yang memiliki sistem kehidupan sosial yang canggih dan terorganisir. Ada koloni yang dihuni 45.000 sarang yang saling berhubungan dalam wilayah seluas 2,7 kilometer persegi. Di dalamnya hidup sekitar 1.080.000 semut ratu dan 306.000.000 semut pekerja! Tidak ada yang mendidik mereka hingga berada dalam keteraturan itu, kecuali Allah subhanahu wa Ta'ala yang mengilhami mereka.

Sebagaimana angsa, (baca: Analogi Sinergi Umat: Berjamaah Yang Mencerdaskan), semut mengelola kehidupan koloninya melalui kerja-kerja sinergi yang luar biasa. Ada semut ratu yang bertugas dalam hal reproduksi koloni. Semut jantan yang membuahinya mati, begitu menyelesaikan tugas pembuahan.

Ada semut pekerja yang merupakan semut betina yang steril. Mereka bertugas merawat bayi-bayi semut, membersihkan dan memberi mereka makan. Jika musim paceklik, semut pekerja berubah peran menjadi pemberi makan bagi sesamanya. Mereka memberi partikel makanan yang berasal dari tubuhnya.

Ada juga semut yang bertugas membangun koloni dan menemukan lokasi tempat tinggal dan beburu. Semut kenis ini juga berperan dalam pertahanan dan keamana koloni. Jika ada burung atau predator lain yang mendekati sarang mereka, mereka mengarahkan perut menutupi sarang lubang sarang menyemprotkan zat asam ke arah burung tersebut. Sistem pertahanan lain yang dimiliki semut adalah menutup lubang sarang dengan kepala-kepala semut apabila ada bahaya yang mengancam.

Semut juga memiliki keunikan yang lain. Mereka membangun jalan-jalan panjang secara bersama-sama. Beban yang berat akan mereka bawa bersama-sama pula. Beberapa pakar juga menjelaskan bahwa kelompok-kelompok semut menentuka waktu-waktu tertentu untuk bertemu menukar makanan. Luar Biasa! MaasyaAllah!

Sinergi Semut: Perjuangan Bertahan Hidup!  

Allahu a'lam..

--------------------------------------------------------------------------

Daftar Pustaka;
1. Menyingkap Rahasia Alam Semesta, Harun Yahya
2. Prophetic Learning, Dwi Budiyanto
3. Youtube.com

Friday, January 04, 2013

Analogi Sinergi Umat: Berjamaah Yang Mencerdaskan

Mari kita belajar. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengajarkan kita makna berjamaah. Berjamaah adalah sebuah keniscayaan. Sinergi adalah kunci kesuksesan membangun pribadi dan peradaban. Sadarilah bahwa hampir semua kesuksesan yang terjadi selalu menyertakan kebersamaan. Gelar adalah kiasan. Pahlawan adalah kebersamaan, bukan pribadi. Sebuah sukses besar yang dilakukan oleh seorang pahlawan senantiasa menyiratkan catatan bahwasanya ia tidak sendiri dalam perjuangannya. Pahamilah ini. Mari kita belajar dari angsa yang sering bermigrasi.

"Dan apakah mereka tidak memerhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu."
(QS. al-Mulk [67]: 19)

Akhir-akhir ini saya sering membaca buku-buku Harun Yahya. Dan itu membuat saya termenung karena sering memikirkan bagaimana luar biasanya Allah menciptakan alam semesta beserta seluruh komponen penyusunnya. MaasyaAllah.

Harun Yahya, dalam bukunya "Menyingkap Rahasia Alam Semesta", menjelaskan bahwa ada sinergi yang dahsyat luar biasa dalam cara mereka (angsa) terbang. Mari kita perhatikan. Kawanan angsa ini selalu terbang menuju daerah yang lebih hangat dengan membentuk formasi V. Mereka bermigrasi dari daerah dingin.

Ternyata, terbang dengan formasi ini dapat menambah daya terbang mereka. Beberapa pakar menyatakan bahwa mereka mampu terbang 71 persen lebih jauh ketimbang terbang sendiri-sendiri. Dietrich O. Hummel, seorang insinyur penerbangan, telah membuktikan bahwa dengan pengaturan seperti ini, secara umum kelompok dapat menghemat energi hingga 23%. MaasyaAllah.

Jika angsa bagian depan letih, ia akan pindah ke belakang dan membiarkan angsa lainnya mendahuluinya dan mengambil alih pimpinan. Setiap kali angsa keluar dari formasinya, dia akan mengalami daya tahan udara yang besar dan kesulitan terbang sendiri. Akhirnya, ia akan kembali ke dalam formasi.

Angsa-angsa tersebut juga sering bersuara serempak saat terbang. Cara ini bertujuan memberikan semangat kepada setiap anggota kelompok dan memupuk motivasi bagi yang ada di depan. Dengan cara ini pula, ritme terbang mereka tetap terjaga. Jika kemungkinan ada salah satu angsa yang sakit atau letih dan keluar dari formasi, dua angsa lain akan mengikutinya turun. Dua angsa ini akan melindungi dan menolong angsa yang sakit dan keluar dari formasinya tersebut. Dua angsa itu akan menunggu angsa sakit itu hingga sembuh atau mati. Lalu, mereka akan segera bergabung ke dalam formasi, atau menciptakan formasi sendiri untuk menyusul angsa yang lain.

MaasyaAllah! Sungguh luar biasa cerdas! Dengan membagi arus udara akibat kepakan sayapnya, bergilir memimpin, menciptakan motivasi kelompok dan dukungan bagi yang memimpin, menjaga untuk tetap berada dalam formasi, dan menolong yang terluka.

Berjamaah yang mencerdaskan. Angsa-angsa itu mampu melakukan aktivitas berlipat-lipat ketimbang jika sendirian.

Allahu a'lam.

Tunggu seri berikutnya, Analogi Sinergi Umat: Berjamaah Yang Mencerdaskan II

Daftar Pustaka;
1. Menyingkap Rahasia Alam Semesta, Harun Yahya
2. Prophetic Learning, Dwi Budiyanto

Wednesday, January 02, 2013

Hanya Ingin Tahu Jalan ke Pasar?

Menarik. Ada sebuah kisah yang ingin saya ceritakan kepada sahabat semua.

Ada potret menarik di kalangan Shahabat Nabi. Mereka betul-betul merupakan sosok yang mandiri. Mereka lebih memilih memberi manfaat daripada mengambil manfaat dari orang lain.

Al-Bukhari meriwayatkan, tatkala kaum Muhajirin tiba di Madinah, Rasulullah mempersaudarakan mereka dengan kaum Anshar. Salah satunya, beliau mempersaudarakan Abdurrahman bin Auf dengan Sa'd bin ar-Rabi'.

Sa'd berkata kepada Abdurrahman, "Sesungguhnya aku adalah orang yang paling banyak hartanya di kalangan Anshar. Ambillah sebagian hartaku itu untukmu. Aku juga mempunyai dua istri. Maka lihatlah nama yang engkau pilih, agar aku bisa menceraikannya. Jika masa iddahnya sudah habis, maka kawinilah ia!"

Abdurrahman berkata, "Semoga Allah memberkahimu, dalam keluarga dan hartamu. Lebih baik tunjukkan saja dimana letak pasar kalian?"

Maka, orang-orang pun menunjukkan pasar Bani Qainuqa'. Tak berapa lama, Abdurrahman sudah mendapatkan sejumlah samin dan keju. Jika pagi hari tiba, dia sudah pergi ke pasar untuk berdagang.

Setidaknya, ada dua poin yang bisa kita ambil hikmahnya dari kisah ini. Pertama, menunjukkan kemurahan hati kaum Anshar terhadap saudara-saudara mereka dari kalangan Muhajirin. Mereka rela berkorban, lebih mementingkan saudaranya, mencintai, dan menyayangi mereka. Dan kalangan Muhajirin, sungguh besar kehormatan bagi mereka, karena mereka tidak mau menerima dari saudaranya, kaum Anshar, kecuali sekadar makan yang bisa menegakkan tulang punggung.

Kedua, orang-orang Muhajirin, mereka adalah sosok yang mandiri, yang tidak ingin menjadi beban bagi orang lain. Mereka akan lebih senang bekerja, daripada menerima bantuan yang tidak berumur panjang.

 --------------------------------------------------------

Itulah potret masyarakat yang berpikir, bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Bukan malah sebaliknya. Cara pandang seperti inilah yang bisa membuka bagi jalan hidup masyarakat yang sejahtera, di atas rata-rata. Kita sangat ingat betul pada masa Kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz, dimana ketika itu keadaan sangat sulit mendapatkan orang-orang yang berhak menerima zakat. Umar bin Abdul Aziz berhasil membangun peradaban yang memberi, peradaban yang gemilang.

Ada lagi, masih pada zaman Umar bin Abdul Aziz, Zaid bin al-Khatab bercerita, "Umar bin Abdul Aziz hanya memegang pemerintahan selama dua tahun setengah, atau 30 bulan. Dia belum meninggal, hingga seorang laki-laki datang kepada kami dengan harta melimpah. Dia berkata 'Bagikan harta ini ke fakir miskin menurut pandangan kalian.' Kemudian laki-laki membawa harta tersebut untuk dibagikan ke fakir miskin. Dia terus mencari-cari orang yang akan menerima harta itu, tetapi tidak menemukannya. Lalu dia kembali membawa pulang harta itu. Allah telah mencukupi rakyat melalui tangan Umar bin Abdul Aziz."

Namun, era keemasan itu sudah lewat. Ia akan menjadi goresan catatan indah dalam lembaran-lembaran sejarah. Kini, ummat banyak yang menjadi pengemis, lemah secara finansial, lemah akidah, dan rapuh akhlaknya. Seperti yang digambarkan oleh Rasulullah, "Seperti buih di lautan". Buih itu diombang-ambing ombak, banyak, namun tak berkualitas.

Tugas siapa?

Tak perlu dijawab. Itu retoris bagi saya. Mulailah dengan diri sendiri.

Tuesday, January 01, 2013

2013 ?

Lagi. Dalam kesendirianku merenungi diriku. Ah, Aku jadi teringat akan pesan dari Abdullah bin Mas'ud, ia berkata;

"Aku tidak menyesali sesuatu melebihi penyesalanku terhadap suatu hari.. Jatah hidupku berkurang sementara amalku tidak juga bertambah."

Maka, jangan heran, engkau tak akan menemukanku, tak ada ucapan selamat dariku untuk 2013, tak ada hiruk-pikuk kesenangan dariku di awal 2013. Tak ada terompet. Tak ada pesta. Tak ada petasan. Tak ada kembang api. Tak ada, tak ada apapun.

Sama saja. Jatah hidupku terus berkurang, sementara, untuk alasan apalagi aku harus bersenang-senang?

Aku hanya berharap, semoga Allah menghapus dosa-dosaku di masa lalu, dan menjagaku atas nafsuku untuk bermaksiat di hadapan-Nya nanti.

Wednesday, December 26, 2012

Mengapa Hidup Harus Bermanfaat?

Saya jadi teringat ucapan populer dari Syaikh Aidh al-Qarni, "Orang yang pertama kali akan dapat merasakan manfaat memberi adalah pihak yang memberi itu sendiri. Mereka akan merasakan 'buah' memberi seketika itu juga, dalam jiwa, akhlak dan nuraninya. Sehingga mereka selalu lapang dada, merasa tenang, tenteram dan damai."

Ya. Benar. Hidup itu harus banyak memberi manfaat. Bukan menerima (diberi) manfaat.

Kita sudah cukup gelisah dengan gaya hidup materialis dan hedonis. "Yang penting, hidupku enak, rumahku nyaman, keluargaku sehat-sehat, karirku sukses, mobilku berkelas. Persetan dengan urusan orang lain!"

Gaya hidup seperti ini adalah gaya hidup yang dibangun dengan semangat nafsi-nafsi. Atau dalam istilah populer orang Betawi, "Loe-loe, gue-gue." Tak perduli apakah tetangga kanan-kiri kelaparan. Tak perduli di pojok-pojok kota kemiskinan menjaja. Tak ambil pusing. Inilah dunia sekarang.

Rekayasa telah mengubahnya menjadi dunia belantara. Dimana bahasa global kita adalah kekuatan besi dan baja; bahasa bisnis kita adalah persaingan; bahasa politik kita adalah penipuan; bahasa sosial kita adalah pembunuhan; bahasa jiwa kita adalah kesepian, keterasingan. Kita adalah masyarakat sipil berwatak militer, hancur sana, hancurkan sini; masyarakat peradaban berbudaya primitif. Kita adalah manusia-manusia sepi di tengah keramaian, manusia-manusia merana di tengah kemelimpahan. Luarnya tampak bahagia, padahal dalamnya sebenaranya menderita.

Khairun-naasi anfa'uhum lin-nas. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Kata Rasulullah.

Saya akan tutup tulisan singkat ini dengan sebuah nasihat;
"Butir-butir embun turun dari arah langit. Ia muncul bumi secara sembunyi-sembunyi, tanpa dilihat manusia. Jadilah butir-butir embun itu; bertakwa, banyak, dan tersembunyi."

Saturday, December 22, 2012

Teruntukmu, Ibu..

Aku ingat betul saat itu, wajah kesurgaan itu sayu memandangku, dengan penuh cinta dan kelembutan sembari memegang tanganku, ia berkata;

Kurang lebih seperti ini jika aku bahasakan dari bahasa daerahku;

"Nak, jadilah apapun yang engkau mau. Kejarlah apapun yang engkau citakan. Jadilah orang yang berguna bagi bangsa dan agamamu. Aku tak punya hak untuk menentukan masa depanmu, kamu adalah mahluk terindah yang Allah amanahkan padaku. Dan kewajibanku, ialah membesarkanmu, merawatmu, mendidik dan menjagamu. 

Masalah cita-cita, jadilah apapun yang engkau mau. Ibumu kan selalu mendukung dan mendoakanmu. Tetapi satu hal, ibu akan sangat berbangga padamu jika engkau bisa menginjakkan kaki di tanah suci.

Jadilah orang yang berguna, dan sebagai awalnya, jadilah orang yang baik pada orang-orang di sekitarmu, dan pada masyarakat.

Masalah jodoh, pun untuk masalah ini, carilah wanita manapun. Paras tak penting, tetapi pilihlah yang akhlaknya baik.

Nak, ibu tak butuh apa-apa darimu, ibu hanya ingin engkau bahagia dengan caramu sendiri."

Aahh, begitulah yang dapat kurekam, yang terpatri takkan pernah terlupakan. Aku memang tak bisa berkata apapun saat itu, selain hanya mencoba menahan dentuman perasaan, sembari memeluknya.

Ibu, lihatlah anakmu ini. Terima kasih. Simpan air matamu sekarang, simpanlah itu nanti, saat aku telah menggenggam matahariku. Sebagai tanda bahwa aku tahu itu bukan tangisan kesedihan, melainkan tangis kebahagiaan.

Aku tahu, satu tindakan nyata mampu meruntuhkan seribu perkataan.

Monday, December 03, 2012

Gak Bilang "Wow" Bisa Kali!

"Terus, gue harus bilang wow gitu?" Kadang-kadang saya sering sekali tertawa geli jika mengingat frasa ini. Kata-kata yang memang sedang 'happening' banget akhir-akhir ini. Bahkan, tidak hanya remaja-remaja alay yang sering menggunakan frasa ini, tetapi mulai dari anak-anak, pegawai kantoran, sampai ibu-ibu yang setiap pagi beli sayur di abang gerobak dorong..hehe

Terus, apa kita harus jingkrak-jingkrak, salto, terus lompat dari apartemen lantai 30 sambil bilang wow gitu karena fenomena ini? Ya tidak juga. Tapi kalo mau ya silakan, tapi jangan cari saya jika ada apa-apa pada diri Anda.

Biasanya sih yang saya tahu, kata "wow" diucapkan jika seseorang melihat, mendengar, dan merasakan sesuatu yang menakjubkan. Tapi, masa sih setiap melihat sesuatu yang seperti itu kita harus selalu bilang wow? Cape deh. --"

Nah, disinilah letak terlihatnya degradasi ajaran Islam pada masyarakat kita, khususnya para remaja. Karena, tak ada kata yang lebih indah selain mengucapkan kata-kata thoyibah (baik) lagi berpahala untuk kita. Bukankah kita selalu di ingatkan dalam 'buku suci' kita (baca: Qur'an) ?

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertanggungjawabannya."
(QS. Al-Israa': 36)

Nah lho? Main ikut-ikutan aja sih.

Ucapkanlah "MasyaAllah" bila melihat, mendengar, dan merasakan sesuatu yang menakjubkan. Ini sesuai dengan tuntunan dalam Al-Qur'an dan bahasa Arab. Dan berpahala lagi. Di dalam Al-Qur'an pun bisa kita jumpai,

"Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu "maasyaAllaah, laa quwwata illaabillaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan."
(QS. Al-Kahfi: 39)

Orang Arab tidak menebang pohon kurma, dan salto sambil bilang wow jika melihat sesuatu yang yang menakjubkan. Jangan menilai ini Arabisasi. Karena sebutan ini merupakan dzikir kepada Allah. Ini adalah ibadah.

Subhanallah gimana?
Tidak masalah. Ini juga kalimat baik. Tapi, sering terjadi kesalahan kondisi pengucapan pada masyarakat kita. Subhanallah sering diucapkan oleh masyarakat kita bila menemui hal yang menakjubkan. Padahal dalam Al-Qur'an, kata subhanallah sendiri dipakai untuk mensucikan Allah dari hal-hal yang tidak pantas. Lagi-lagi bukan kata "wow" ya..

"Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah (subhanallah), dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik."
(QS. Yusuf: 108)

Kita hanya perlu penyesuaian ucapan. Bisa juga "Allahu Akbar" jika melihat yang mengagumkan, atau pada saat berjalan pada jalan yang mendaki. Dan pada jalan yang menurun "Subhanallah".
Bila menemukan musibah, atau berita buruk, ucapkanlah "Innalillahi wa inna ilaihi roji'un". Inilah yang Al-Qur'an tuntunkan untuk kita. Lagi-lagi bukan koprol sambil bilang "wow".

"Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.""
(QS. Al-Baqarah: 155-156)

Misalnya, ada teman Anda yang bilang "Sorry nih gue telat, tadi di rumah, kucing nenek tetangga gue mati. Jadi telat deh." (apa hubungannya?)
Jangan dijawab, "Terus gue mesti kawin sama kucing sambil bilang wow gitu?"
Ada ucapan yang lebih baik yaitu, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Jangan salah kaprah jika ucapan ini hanya disebutkan pada saat mendengar berita kematian.

Gimana kalo dapat sesuatu yang menyenangkan?
Lagi-lagi tidak perlu bilang wow. Apalagi sambil ngangkat patung selamat datang di Bundaran HI. Tapi ucapkan "Alhamdulillah". Inilah ucapan syukur. Lagi-lagi bukan bilang wow sambil ngemut tugu monas.

Kalo mau memulai sesuatu bilang "Bismillahir rahman nir rahiim". Masa mau makan bilang wow, ke toilet bilang wow, naik angkot bilang wow, mau tidur bilang wow, apalagi yang harus bilang wow?

Dan jika melakukan kesalahan, ucapkan "Astaghfirullah hal 'adzim", bukan "wow" lagi. Dan gak harus keliling RT pake speaker sambil bilang wow juga. Tapi kalo mau, ya silakan.

Nah inilah letak keindahan Islam. Segalanya bernilai amal dan pahala. Karena untuk kebaikan, Allah menyediakan banyak cara.

Wow.

Eh... Wallahu a'lam bish-shawab. :D

Sunday, November 25, 2012

Orang Jahat = Orang Baik Yang Tersiksa

Yang sama-sama harus kita pahami ialah pada dasarnya sejak awal manusia dilahirkan, sifat dan moral manusia itu baik. Pandanglah bahwa setiap orang jahat berasal dari jiwa-jiwabaik yang tersiksa karena terlalu banyakmenemukan keburukan.

Pahamilah bahwa Tuhan tidak pernah menzhalimi hamba-Nya bahkan sebesar zarrah, tetapi hamba tersebutlah yang menzhalimi dirinya sendiri. Lalu timbullah prasangka bahwa Tuhan telah menzhaliminya,

Na'udzubillah.

Percayalah.
Bahwa Tuhan tidak akan pernah mengabaikan kebaikan yang hamba-Nya perbuat bahkan sebesar zarrah, seperti yang termaktub dalam 'Lembaran Suci-Nya' (baca: Qur'an).

Allahu a'lam.

Saturday, November 24, 2012

Mutualisme Kebaikan...

Banyak orang yang akan berpikir seribu kali untuk melakukan atau membantu hal yang menguntungkan orang lain. Mengkhawatirkan kemajuan hidup orang lain, tetapi tetap mengeluhkan kemerosotan diri, dan menyalahkan keadaan yang Tuhan pilihkan.

Oh kawan.

Jangan seperti orang-orang kerdil.
Kebaikan itu mutualisme, yang engkau beri, itu pula yang engkau terima. Membuka jalan bagi kesuksesan orang lain adalah sikap yang tidak dimiliki oleh sembarang hati.

Begitulah.
 Maka bersiaplah, Allah akan membuka jalan bagi kesuksesan pencapaian mimpimu.

Friday, November 23, 2012

Doktrin Konyol.

Hampir semua orang menganggap bahwa banteng akan menyerang jika ada warna merah yg dilihatnya.

Oh terlalu.

Faktanya, banteng adalah hewan yang buta warna.
Dengan kata lain, tidak bisa membedakan warna apapun. Ia akan marah jika melihat sesuatu yang berkibar-kibar, seperti kain.

Ternyata. Oh ternyata.

Selama ini kita telah dicekoki oleh doktrin-doktrin konyol, tanpa pembuktian.
Nah, disinilah pentingnya menjadi seorang muslim yang cerdas.
Kita adalah orang-orang besar yang sedang berproses.

InsyaAllah.

Wednesday, November 21, 2012

Celaka..

Hal yang fatal yang sering diperbuat pribadi lemah adalah sering memenuhi janji terhadap orang lain, namun lalai pada janji terhadap dirinya sendiri.

Berapa banyakkah janji pada diri sendiri yang sudah kita langgar?
Berapa kali kamu berjanji akan menjadi pribadi yang lebih baik, namun nyatanya engkau dustai sendiri?

Celaka. Sungguh celaka.

 Semoga malam ini kita kembali diingatkan untuk senantiasa memperbaiki diri.

Saturday, November 17, 2012

Untukmu Pendamba Cinta...

Sahabatku,
Yang oleh-Nya hatiku telah dicintakan-Nya padamu,

Aku percaya. Percaya sekali.

Engkau mahluk indah yang takkan bisa hidup tanpa cinta.
Bahkan cinta itu kebutuhan hidupmu. Iya kan? Aku paham :)

Tetapi, dengarkan ini yaa;

Hidup sementara tanpa sebagian kecil dari cinta takkan membunuhmu. Lihatlah dunia! Luas sekali bukan?
Terlalu kerdil cara berpikirmu jika hanya sibuk memikirkan duniamu saja.
Engkau kadang melupakan fakta bahwa aku pun sepertimu. Berperasaan sepertimu. Memiliki rasa cinta sepertimu. Ingin mencintai sepertimu.

Oh dear,
Tuhan takkan membiarkan jiwa-jiwa baik yang berpengharapan besar tersiksa dalam upaya penyabaran diri untuk cinta itu. Yang haq, jelas haq. Dan yang bathil, jelas bathil.

Perbedaannya jelas. Jelas sekali.

Dengan yang belum halal bagimu, itu haram, jelas.
Pembenaran? Sampai kapan engkau melakukan itu?

Tegaslah pada dirimu sendiri. Juga pada cintamu.

Sunday, October 28, 2012

Cara Pandang Masalah?

Saya memiliki pengalaman yang saya kira cukup esensial untuk kita bahas dan renungkan. Tadi pagi, sewaktu saya dan teman-teman melakukan bakti sosial Idul Adha, di daerah Kampung Sawah, Cilincing Jakarta Utara. Saya akan membahas hal yang terlihat sepele, tetapi tanpa kita sadar, efeknya mempengaruhi diri kita.

Saya menggunakan sepeda motor bersama seorang sahabat yang duduk di belakang saya. Ketika kami memasuki area gang di Kampung Sawah tersebut, Subhanallah, saya melihat jalan rusak, penuh batu-batu dan tidak rata (bergelombang). Bahkan bisa dikatakan untuk orang berjalan kaki-pun susah. Ini tidak terlihat berlebihan jika saya katakan demikian. Batu-batu tajam berserakan, jalan bergelombang (tidak rata), dan banyak kubangan air. Saya tidak akan membahas tentang keluhan saya terhadap pemerintah DKI. Tidak. Bukan itu. Tetapi saya akan mencoba mengajak Anda untuk melihat apa yang bisa kita pelajari dari kondisi seperti ini. Dan coba kita komparasikan pada nilai-nilai dalam kehidupan kita.

Ternyata. Kondisi jalanan yang mulus dan rata telah mendidik kita menjadi pribadi yang emosional, cepat marah, dan tidak disiplin di jalanan. Ini fakta. Coba lihat! Betapa banyak dari pengendara motor yang menerobos lampu merah, ugal-ugalan, kebut-kebutan, dan memiliki emosional yang tinggi. Disenggol motornya sedikit, marah, ngajak berantem. Dia yang salah, dia yang marah-marah. Ini hanya sampel yang saya ambil dari fakta di lapangan, saya tidak menjeneralisir.

Tapi, coba Anda bandingkan dengan saya ketika di jalanan tadi!
Saya dengan cekatan menghindari jalanan yang becek dan berlubang. Saya menjadi sabar dalam memilih sisi jalan yang permukaannya rata. Saya sangat berhati-hati memilih lewat mana. Ini fakta.

Nah, sekarang, coba kita komparasikan terhadap sudut pandang kita dalam menghadapi masalah. Jika Tuhan memberikan kepada kita jalan hidup yang mulus saja, tanpa adanya kerikil-kerikil kecil, tanpa adanya riak-riak air yang mengganggu perahu impian Anda, tanpa adanya lubang yang setiap saat bisa menjatuhkan Anda, tanpa adanya jalan yang bergelombang yang bisa menghambat jalan hidup Anda. Apa yang terjadi? Tepat. Mungkin hal itulah yang akan terjadi pada diri Anda. Seperti pengendara yang berada di jalanan mulus tadi. Anda akan melupakan cara menjadi sabar, Anda mungkin akan melupakan berhati-hati dalam memilih jalan, dan mungkin Anda akan menjadi pribadi yang emosional.

Sekali lagi saya katakan, masalah itu membesarkan Anda.
Masalah itu mendewasakan Anda.
Dan masalah itu menjadikan Anda lebih bijak dalam menghadapi proses yang menjadikan Anda hidup.

Lihatlah pada pengendara yang berada di jalanan yang rusak. Apa? Ya, ia menjadi bersabar, ia menjadi cekatan, dan ia menikmati dalam keadaan yang mendewasakannya.

Mungkin inilah maksud dari firman Allah bahwa Dia tidak akan membebankan masalah di luar batas kesanggupan hamba-Nya.

Itulah madrasah bagi diri Anda untuk menjadi dewasa. Yang perlu kita benahi ialah pada cara pandang kita menghadapi nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Wednesday, October 10, 2012

Belajar dari Thariq bin Ziyad

Masih ingat yang dilakukan Thariq bin Ziyad tatkala akan menaklukkan Spanyol?
Ya, membakari perahu-perahu yang ditumpangi pasukannya untuk menyebrang ke daratan itu.
Ketika pasukannya dicekam oleh ketidakmengertian, saat itu Thariq mengatakan;

"Di belakang kita hanya terbentang lautan. Perahu-perahu kita telah musnah. Tak ada lagi kesempatan untuk mundur. Sementara itu, kita saksikan di depan kita musuh bersiap menanti. Tak ada pilihan lain bagi kita kecuali menjemput kemenangan atau mati dalam kesyahidan."

Begitulah yang dapat kita rekam.
Kita dapat mengetahui efek yang ditimbulkannya.
Pasukan itu mengalami penggandaan semangat dan keberanian yang luar biasa.
Thariq bin Ziyad sedang menepis pikiran pasukannya untuk mundur dan lari dari pertempuran.

Wallahu a'lam.

Sunday, October 07, 2012

Cintaku

Ketahuilah,
Jika engkau mencintaiku bersebab hanya karena kelebihanku, maka berhentilah!
Aku takut engkau tak siap menghadapi semua kekuranganku..

Jika engkau mencintaiku karena rupaku, maka berhentilah!
Kelak wajah ini akan tak ada artinya jika telah dimakan cacing di kubur..

Jika engkau mencintaiku karena hartaku, maka berhentilah!
Aku tak memiliki apapun selain dirimu, harta terindahku..

Aku juga tak memintamu mencintaiku karena kekuranganku,
karena itu adalah kelebihanku yang sedang berproses..

Aku takkan mensyaratkan separuh jiwaku padamu.
Engkau tahu mengapa?
Karena separuh jiwaku telah kuserahkan padamu,
dan kutahu tak ada jiwa lain dalam jasad ini selain yang ada padamu..

Aku takkan menjanjikanmu surga bila bersamaku.
Engkau tahu mengapa?
Karena bersamamu, hariku adalah surga..

Aku bukan begitu dan begitu bukanlah aku!
Aku tak ingin cintamu terbagi-bagi oleh semua yang aku miliki.
Aku hanya ingin engkau mencintai aku saja, tak ada alasan lain selain aku.

Sedangkan yang lain, itu hanya pelengkap diriku.
Artinya, engkau menyediakan diri untuk menerima semua yang ada padaku.
Tanpa alasan. Itu saja!

Begitulah caraku mencintaimu,
dengan menjaga dirimu dan diriku,
menjaga kesucian cintamu dan cintaku.

Semoga.

Friday, October 05, 2012

Manusia Petani?

Duh Gusti...
Mengapa hujan tak turun-turun?
Sawah ladangku kekeringan, padiku kekurangan air..
Ini sumber nafkah anak istriku, lalu dengan apa hamba memberi makan mereka..
Turunkanlah hujan..

Duh Gusti...
Mengapa hujan turun lagi?
Sawah ladangku terendam, padiku mati, dan ladangku gagal panen..
Sekarang, anak istriku benar-benar tidak bisa makan..

Ahhhh... Dasar manusia!
Selalu mengeluh, tak pernahkah engkau bersyukur pada Tuhanmu?
Hanya meratap seperti seorang petani yang putus asa!
Bukan Tuhan yang tak memberimu nikmat, tapi engkaulah yang tidak mengelola nikmat itu!

Sunday, September 30, 2012

Berbaris Nasihat, Sahabatku...

Cinta...
Ya, Cintaa...

Aku tahu, ini sebuah topik yang sangat menarik untuk diperbincangkan, selalu menarik, dan tak pernah akan ada habisnya :)
Bahkan, ada di antara kita yang 'jatuh bangun' dalam kehidupan cintanya dan sering dikecewakan karena pengkhianatan cinta. Dan mengetahui bahwa cinta itu hal yang buruk bila disalah-artikan. Tapi, masih saja tak 'kapok' untuk merasakan indahnya cinta, walaupun itu tak pernah dirasakannya.

Ahh..
Apa istimewanya cinta?
Ya aku tahu, cinta itu fitrah. Kehendak lahiriyah, kita ingin mencinta dan dicinta. Dan tak ada ajaran manapun yang melarang cinta. Indah memang si 'cinta' ini.

Teruntukmu sahabatku,
sebuah nasihat dariku, untukku pribadi, dan juga untukmu tentunya.
Coba dengarkan ini yaa..

Pribadimu, cermin kualitas calon pendapingmu!

Pernah mendengar ayat ini?
 "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). ..." (QS. an-Nuur: 26)

Ya, tepat sekali.

Betapa indahnya lantunan ayat di atas.
Siapapun yang menjadi pendampingmu berarti adalah pribadi yang sekualitas dengan dirimu. Mereka yang menginginkan pendamping yang baik, pastilah akan berusaha menjadi pribadi yang baik. Dan mereka yang baik pasti akan dipertemukan dengan orang yang baik pula. Begitu sebaliknya.


Untukmu saudariku,

Berdandanlah yang cantik,
Pakailah baju minim yang menarik!
Bebaskan dirimu dari semua aturan, bergaullah sesukamu.

Dan kau kan menemukan semua lelaki yang mendekatimu untuk bersenang-senang.
Buktikan saja. Coba biasakan tampilan, tutup 'perhiasanmu' (baca: aurat) dan sempurnakan, longgar dan tebalkan pakaian, jagalah akhlak dan sopan santunmu. Hati-hati dengan pergaulan!

Dan kau, InsyaAllah, akan dipertemukan dgn lelaki mendekatimu untuk mencari peluang bersanding di pelaminan. Lelaki yang menghormatimu. Sebab bagi sebagian lelaki, mencari wanita untuk bersenang-senang, dan mencari wanita untuk membina rumah tangga, itu langit dan bumi bedanya. Sangat amat sungguh dan memang berbeda sekali. (lebay gak sih?)

Dr. Farrah Gray pernah berucap,
"Searching for the right person starts with you becoming the right person."

Yup, tepat sekali!
Jika ingin disandingkan dengan pribadi yang baik, tak ada cara lain, engkau harus baik dahulu!
Tak usah membuang-buang waktumu dengan bermaksiat di hadapan Tuhanmu (baca: pacaran).
Engkau hanya menyia-nyiakan masa mudamu.

Tuhan telah menyiapkannya. Tak perlu khawatir. Karena kehancuran selalu diawali oleh pengingkaran terhadap larangan Tuhan. Tak usahlah kita berlebay ria dalam mencinta, seberapa besar cintamu mempengaruhi seberapa besar sakit hatimu ketika kau kehilangannya.

Tapi saya galau?
Iya, wajar! Anak muda yang tidak galau adalah anak muda yang tidak normal.
Galau itu proses pendewasaan jika engkau lihai dalam mengatur pola hatimu.

Hanya mereka yang menjadikan kegalauannya sebagai arena memperbaiki diri. Tidak memelas. Tidak memikirkan nasib yang dibuat sendiri. Tidak malas. Tidak sulit malam. Tidak susah tidur. Itu galau yang baik.

Untukmu, Saudaraku.
Wanita, ya, mahluk ini memang pandai "menggoda" hatimu.
Aku tahu itu. Benar kan?

Dengarlah ini,
Wanita yang baik itu adalah wanita yang pandai melihat potensi dirimu. Engkau dilihat dari kecerahan masa depanmu, bukan masa lalumu. Wanita yang menginginkan kebaikan hanya akan tertarik kepada laki-laki yang menghormatinya. Yang memuliakannya. Jadi, jadikanlah dirimu pribadi yang bertutur kata yang baik, sopan, dan setiap kata yang keluar dari mulutmu adalah kebenaran. Oh iya, Wanita itu mengidolakan laki-laki yang kharismatik. Yang menebar senyum. Yang setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu berharga dan paling dinanti. Bahkan ketika dia tidak datang pada suatu acara, orang-orang pasti akan menanyakannya. Yang tidak banyak bicara, tetapi sekali berbicara sangat mengena di hati. Buatlah dirimu menjadi pribadi yang berkharisma, yang terlihat dari tegapnya badan ketika berjalan.

Dan, tampan?
Bagiku ini bonus dan nilai plus jika engkau memilikinya.
Kukatakan ini, wanita mana yang tidak tertarik dengan laki-laki seperti itu?
Ini retoris, tak perlu kau jawab!

Dan untukmu para wanita, jika melihat laki-laki yang tiba-tiba berubah secara drastis menjadi seperti yang kukatakan. Jangan tertipu. Itu karena sudah aku beri tahu tipsnya.

Hehe, bercanda :P

"Kisah cinta paling romantis itu bukanlah Kisah Romeo & Juliet yang dengan bodohnya mati bersama..
Tapi kakek dan nenek yang tumbuh tua bersama dalam cinta."

Sampaikan ini pada Sang Pemilik Cinta Abadi, indah sekali kata-kata ini.
Serahkan pada Allah saja.
"Ya Aziz, Jika cinta adalah ketertawanan, maka tawanlah aku dengan cinta kepada-Mu. Agar tidak ada lagi yang dapat menawanku selain Engkau
Ya Rohim, jika cinta adalah pengorbanan, tumbuhkan niat dari semua pengorbananku semata-mata tulus untuk-Mu. Agar aku ikhlas menerima apapun keputusan-Mu
Ya Robbii, jika rindu adalah rasa sakit yang tidak menemukan muaranya, penuhilah rasa sakitku dengan rindu kepada-Mu dan jadikan kematianku sebagai muara pertemuanku dengan-Mu.
Ya Allah, jika ini baik bagi hidup dan agamaku, tolong dekatkan aku dengan cara-Mu.
Tapi, jika ini buruk bagi hidup dan agamaku, tolong jauhkan aku darinya dengan cara-Mu.
Aamiin.."

Segeralah Bertindak!
Katakan ini padanya.
"Adinda, Aku mencintaimu karena Allah.
Dan bila engkau juga mencintaiku karena Allah.
Maka serahkan saja pada-Nya.
Biarkan Dia yang mendekatkan kita dengan cara-Nya.
Aku ingin kita bersabar hai Adinda, karena aku mencintaimu dan aku menghormatimu.
Maka biarkan raga kita menjauh, dan kita pastikan bahwa hati kita akan semakin mendekat.
Mengertilah, hai Adinda.
Aku mencintaimu, tapi engkau harus bersedia aku nomor tigakan.
Yang pertama dan kedua adalah Allah dan Rasulullah.
Jadi, kita harus bersabar. Kita berpisah dahulu untuk sekarang yaa.
Aku takut setan memanfaatkan kelemahan kita dan mencari celah.
Aku takut azab-Nya yang tak luput dari kita.

Kita putus. Selamat tinggal. Biarkan kita saling memperbaiki diri dan mempersiapkannya."

"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)Ku. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah senantiasa bersama dengan orang-orang yang sabar."
(Al-Baqarah: 152-153)

 Allahu a'lam.