English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Showing posts with label Remaja. Show all posts
Showing posts with label Remaja. Show all posts

Wednesday, February 13, 2013

Valentine's Day: Sebuah Kecelakaan Budaya

Hemm..

Bisa jadi, tanggal 14 Februari setiap tahunnya adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh banyak remaja, baik di negeri ini maupun di belahan bumi lain. Katanya, atau apalah namanya. Hari itu sebagai hari untuk mengungkapkan kasih sayang. Bla. Bla. Bla. Valentine Day ini, 'konon' adalah momen berbagi, mencurahkan segenap kasih sayang kepada "pasangan"-nya masing-masing dengan memberi hadiah berupa coklat, permen, mawar, dan lainnya. Caileeh.

Itu baru yang biasa. Ada lagi. Yang luar biasa. Berdua-duaan, dan selanjutnya nista dalam perangkap zina yang lebih besar. Na'uzubillah.

Tetapi, ada satu pertanyaan yang ingin saya tanyakan kepada para pengusung yang tetap saja membenarkan dan melakukan pembelaan terhadap perayaan Valentine ini;

Benarkah ia hanya terbatas pada kasih sayang belaka?

Adalah fakta bahwa setiap melalui malam valentine selalu dilakukan dengan maksiat. Tak usah saya sebut, Anda tahu sendiri apa saja kemaksiatannya.

"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)."
(QS. Al-An'am: 116)

Kasihan jika saya katakan. Menyedihkan. Budaya 'latah'. Taqlid buta. Ikut-ikutan. Ketidaktahuan sejarah.

Asal sejarah yang tidak jelas;

Banyak sekali versi mengenai asal-muasal perayaan valentine ini. Sehingga terjadinya simpang-siur sejarah yang tidak jelas. Ada yang mengatakan perayaan ini berasal dari ritual pagan bangsa romawi kuno, perayaan ini merupakan ungkapan -dalam agama paganis Romawi- kecintaan terhadap sesembahan mereka. Ada pula yang mengaitkan sejarah ini dengan St. Valentine, seorang agamawan Nashrani. St. Valentine dibunuh karena pertentangannya dengan penguasa Romawi pada waktu itu, Raja Claudius II (268 - 270 M). Dimana pada waktu itu, Raja Claudius melarang para tentara dan pemuka agama untuk menikah. Untuk mengenang dia (St. Valentine), yang dianggap sebagai simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan dalam menghadapi hidup, maka para pengikutnya memperingati kematian St. Valentine sebagai 'upacara keagamaan'.

Tetapi sejak abad 16 M, 'upacara keagamaan' tersebut mulai beransur-ansur hilang dan berubah menjadi 'perayaan bukan keagamaan'. Hari Valentine kemudian dihubungkan dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut "Supercalis" yang jatuh pada tanggal 15 Februari. Setelah orang-orang Romawi itu masuk agama Nasrani, ritual 'supercalis' kemudian dikaitkan dengan upacara kematian St. Valentine. Penerimaan upacara kematian St. Valentine sebagai 'hari kasih sayang' juga dikaitkan dengan kepercayaan orang Eropa bahwa waktu 'kasih sayang' itu mulai bersemi 'bagai burung jantan dan betina' pada tanggal 14 Februari.

Ya ya. Cukup. Terlalu panjang jika saya jelaskan lebih jauh lagi. Anda bisa mencarinya sendiri di internet.

"Dan janganlah kamu megikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya."
(QS. Al-Israa': 36)


Paling tidak ada 4 hal yang perlu saya tekankan di sini;

Pertama, sumber dasar dalam merayakan ritual ini. pada awalnya berasal dari aqidah kaum pagan (penyembah berhala), supercalis, namun seiring berjalannya waktu, hal ini berubah menjadi upacara keagamaan dan dikait-kaitkan dengan St. Valentine. Dan lebih jauh lagi, makna sekarang sudah sangat berbeda, dalam perayaannya (maksiat).

Kedua, kita seolah lupa dengan sabda Rasulullah, "Tidak berman salah seorang di antara kamu, sebelum ia mencintai saudaranya seperti kecintaannya kepada dirinya sendiri." See? Islam sendiri sangat menjunjung tinggi rasa kasih sayang. Tidak pernah ada larangan dalam mengungkap kasih sayang, tetapi jika caranya saja sudah salah, bagaimana nantinya. Kasih sayang bukanlah semenit atau dua menit. Dan mengapapula kita harus bekiblat pada Valentine?

Ketiga, idealisme perayaan ini. Valentine jelas-jelas bukan bersumber dari Islam, melainkan bersumber dari rekaan pikiran manusia yang minimalis yang diteruskan oleh pihak gereja.

Keempat, segi pelaksanaannya. Valentine, pada umumnya diadakan dengan acara hura-hura, pesta pora, dan hal-hal yang lebih menjjorok kepada perbuatan zina. Na'uzubillah.

Sudahlah. Tidak perlu! Bukankah Allah itu sendiri ar-Rahman dan ar-Rohim, Maha Pengasih dan Maha Penyayang?

Lihatlah mereka. Barat. Kehancuran mereka sudah di depan mata. Gaya hidup hedonis dan materialis telah menjadikan mereka vampir yang selalu haus menghisap darah ideologi kita, Islam. Hati mereka kosong, mereka tak lebih dari sebuah 'robot' yang bernyawa.

Selanjutnya, pertanyaan yang kini muncul adalah;

Islam itu Indah, Adakah diri kita seindah Islam?

Tentukan sikap.

Allahu a'lam.

#Free Tag and Share. Share and save more :)

Saturday, December 22, 2012

Teruntukmu, Ibu..

Aku ingat betul saat itu, wajah kesurgaan itu sayu memandangku, dengan penuh cinta dan kelembutan sembari memegang tanganku, ia berkata;

Kurang lebih seperti ini jika aku bahasakan dari bahasa daerahku;

"Nak, jadilah apapun yang engkau mau. Kejarlah apapun yang engkau citakan. Jadilah orang yang berguna bagi bangsa dan agamamu. Aku tak punya hak untuk menentukan masa depanmu, kamu adalah mahluk terindah yang Allah amanahkan padaku. Dan kewajibanku, ialah membesarkanmu, merawatmu, mendidik dan menjagamu. 

Masalah cita-cita, jadilah apapun yang engkau mau. Ibumu kan selalu mendukung dan mendoakanmu. Tetapi satu hal, ibu akan sangat berbangga padamu jika engkau bisa menginjakkan kaki di tanah suci.

Jadilah orang yang berguna, dan sebagai awalnya, jadilah orang yang baik pada orang-orang di sekitarmu, dan pada masyarakat.

Masalah jodoh, pun untuk masalah ini, carilah wanita manapun. Paras tak penting, tetapi pilihlah yang akhlaknya baik.

Nak, ibu tak butuh apa-apa darimu, ibu hanya ingin engkau bahagia dengan caramu sendiri."

Aahh, begitulah yang dapat kurekam, yang terpatri takkan pernah terlupakan. Aku memang tak bisa berkata apapun saat itu, selain hanya mencoba menahan dentuman perasaan, sembari memeluknya.

Ibu, lihatlah anakmu ini. Terima kasih. Simpan air matamu sekarang, simpanlah itu nanti, saat aku telah menggenggam matahariku. Sebagai tanda bahwa aku tahu itu bukan tangisan kesedihan, melainkan tangis kebahagiaan.

Aku tahu, satu tindakan nyata mampu meruntuhkan seribu perkataan.

Monday, December 03, 2012

Gak Bilang "Wow" Bisa Kali!

"Terus, gue harus bilang wow gitu?" Kadang-kadang saya sering sekali tertawa geli jika mengingat frasa ini. Kata-kata yang memang sedang 'happening' banget akhir-akhir ini. Bahkan, tidak hanya remaja-remaja alay yang sering menggunakan frasa ini, tetapi mulai dari anak-anak, pegawai kantoran, sampai ibu-ibu yang setiap pagi beli sayur di abang gerobak dorong..hehe

Terus, apa kita harus jingkrak-jingkrak, salto, terus lompat dari apartemen lantai 30 sambil bilang wow gitu karena fenomena ini? Ya tidak juga. Tapi kalo mau ya silakan, tapi jangan cari saya jika ada apa-apa pada diri Anda.

Biasanya sih yang saya tahu, kata "wow" diucapkan jika seseorang melihat, mendengar, dan merasakan sesuatu yang menakjubkan. Tapi, masa sih setiap melihat sesuatu yang seperti itu kita harus selalu bilang wow? Cape deh. --"

Nah, disinilah letak terlihatnya degradasi ajaran Islam pada masyarakat kita, khususnya para remaja. Karena, tak ada kata yang lebih indah selain mengucapkan kata-kata thoyibah (baik) lagi berpahala untuk kita. Bukankah kita selalu di ingatkan dalam 'buku suci' kita (baca: Qur'an) ?

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertanggungjawabannya."
(QS. Al-Israa': 36)

Nah lho? Main ikut-ikutan aja sih.

Ucapkanlah "MasyaAllah" bila melihat, mendengar, dan merasakan sesuatu yang menakjubkan. Ini sesuai dengan tuntunan dalam Al-Qur'an dan bahasa Arab. Dan berpahala lagi. Di dalam Al-Qur'an pun bisa kita jumpai,

"Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu "maasyaAllaah, laa quwwata illaabillaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan."
(QS. Al-Kahfi: 39)

Orang Arab tidak menebang pohon kurma, dan salto sambil bilang wow jika melihat sesuatu yang yang menakjubkan. Jangan menilai ini Arabisasi. Karena sebutan ini merupakan dzikir kepada Allah. Ini adalah ibadah.

Subhanallah gimana?
Tidak masalah. Ini juga kalimat baik. Tapi, sering terjadi kesalahan kondisi pengucapan pada masyarakat kita. Subhanallah sering diucapkan oleh masyarakat kita bila menemui hal yang menakjubkan. Padahal dalam Al-Qur'an, kata subhanallah sendiri dipakai untuk mensucikan Allah dari hal-hal yang tidak pantas. Lagi-lagi bukan kata "wow" ya..

"Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah (subhanallah), dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik."
(QS. Yusuf: 108)

Kita hanya perlu penyesuaian ucapan. Bisa juga "Allahu Akbar" jika melihat yang mengagumkan, atau pada saat berjalan pada jalan yang mendaki. Dan pada jalan yang menurun "Subhanallah".
Bila menemukan musibah, atau berita buruk, ucapkanlah "Innalillahi wa inna ilaihi roji'un". Inilah yang Al-Qur'an tuntunkan untuk kita. Lagi-lagi bukan koprol sambil bilang "wow".

"Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.""
(QS. Al-Baqarah: 155-156)

Misalnya, ada teman Anda yang bilang "Sorry nih gue telat, tadi di rumah, kucing nenek tetangga gue mati. Jadi telat deh." (apa hubungannya?)
Jangan dijawab, "Terus gue mesti kawin sama kucing sambil bilang wow gitu?"
Ada ucapan yang lebih baik yaitu, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Jangan salah kaprah jika ucapan ini hanya disebutkan pada saat mendengar berita kematian.

Gimana kalo dapat sesuatu yang menyenangkan?
Lagi-lagi tidak perlu bilang wow. Apalagi sambil ngangkat patung selamat datang di Bundaran HI. Tapi ucapkan "Alhamdulillah". Inilah ucapan syukur. Lagi-lagi bukan bilang wow sambil ngemut tugu monas.

Kalo mau memulai sesuatu bilang "Bismillahir rahman nir rahiim". Masa mau makan bilang wow, ke toilet bilang wow, naik angkot bilang wow, mau tidur bilang wow, apalagi yang harus bilang wow?

Dan jika melakukan kesalahan, ucapkan "Astaghfirullah hal 'adzim", bukan "wow" lagi. Dan gak harus keliling RT pake speaker sambil bilang wow juga. Tapi kalo mau, ya silakan.

Nah inilah letak keindahan Islam. Segalanya bernilai amal dan pahala. Karena untuk kebaikan, Allah menyediakan banyak cara.

Wow.

Eh... Wallahu a'lam bish-shawab. :D

Saturday, November 17, 2012

Alay: Gaul, Tren, atau Krisis Identitas Kah?

Ah, sudah lama sekali saya ingin mengulas topik ini. Tetapi baru kesampaian sekarang. Baiklah. Tetapi sebelumnya saya tegaskan bahwa hal yang akan saya kupas kali ini hanya berdasar kepada opini dan pemikiran saya saja, yang saya coba pahami dari fenomena yang belakangan telah menjamur pada kalangan ABG atau remaja Indonesia pada umumnya. Jadi, saya harap pembaca mampu memahami dan merespon hal ini melalui perspektif dan cara pandang yang rasional dan objektif. Saya tidak bermaksud untuk menyinggung beberapa pihak yang merasa, melainkan saya berharap kita mampu mengatasi degradasi mental pemuda kita saat ini. Baiklah.

Saya sering sekali tertawa menggelitik saat melihat nama atau status dari teman-teman facebook saya yang menggabungkan huruf besar-kecil, angka, dan simbol-simbol tambahan. Entah maksudnya apa, mungkin karena faktor remaja yang ingin diperhatikan, kreativitas yang disalahtempatkan, atau gaul? Tapi belakangan saya ketahui bahwa mereka disebut 'Alay'. Mereka sering sekali menggunakan kata-kata (yang saya anggap) untuk membacanya pun sulit dan pusing. Seperti, 'Bebyameliacayankridhomulyadie Dengansepenuhhati Kanselalucayankridho' (baca: Bebi Amelia Sayang Ridho Mulyadi Dengan Sepenuh Hati Kan Selalu Sayang Ridho), 'Riiamiraldhie NapashacLiq Ladiezvikerz (Ainkkbbenciissiia)' (entah seperti apa cara membaca yang ini -hehe), atau 'Sherllyghibitiyahaliyah Lorenciiabenciitmendmunapik SyngmamhMahessadrofwanted (Bumbum)' --> Nah, yang ini saya benar-benar pusing cara bacanya seperti apa. Mungkin ada yang bisa membantu?

Hemmm... Saya jadi membayangkan jika nama profil facebook saya, saya ubah menjadi "D'BoyzZRastafaratwethealdbetell Geuselsiigembelpeacelana Panjangsandaljepitbiruputihclu", atau "DauzZXBieberbachdimC-luvers D'bieterzRisekyuhyun De4ngelojungyonghwawilliamelf kessellegRemmoteTV". Hehe, Saya tidak bisa membayangkan betapa gelinya teman-teman saya jika tahu saya merubah nama saya seperti itu :D

Baiklah. Kita cukupkan gelak tawa kita sampai di situ. Dan coba kita amati bahwa fenomena yang telah menjamur ini, menjadi penyebab menurunnya kualitas Bahasa Indonesia, degradasi moral, dan prilaku remaja kita. Tanpa menghilangkan keharusan remaja untuk bebas mengekspresikan dan mengeksplorasi diri mereka. Alay, ya, Alay, menurut sumber yang saya ketahui Alay adalah sebuah istilah yang merujuk pada sebuah fenomena perilaku remaja di Indonesia. "Alay" merupakan singkatan dari "anak layangan" atau "anak lebay". Ibarat sebuah layangan, ia akan mengikuti kemana angin meniupnya, tidak mantap, mudah terbawa angin, dan mudah terbawa arus. Istilah ini merupakan stereotipe yang menggambarkan gaya hidup norak atau kampungan. Selain itu, alay merujuk pada gaya yang dianggap berlebihan dan selalu berusaha menarik perhatian. Seseorang yang dikategorikan alay umumnya memiliki perilaku unik dalam hal bahasa dan gaya hidup. Dalam gaya bahasa, terutama bahasa tulis, alay merujuk pada kesenangan remaja menggabungkan huruf besar-kecil, menggabungkan huruf dengan angka dan simbol, atau menyingkat secara berlebihan. Dalam gaya bicara, mereka berbicara dengan intonasi dangaya yang berlebihan. Di Filipina terdapat fenomena yang mirip, sering disebut sebagai Jejemon. Alay merupakan sekelompok minoritas yang mempunyai karakterisitik unik di mana penampilan dan bahasa yang mereka gunakan terkadang menyilaukan mata dan menyakitkan telinga bagi mayoritas yang tidak terbiasa bersosialisasi dengannya. Biasanya para Alayers (panggilan para Alay) mempunyai trend busana tersendiri yang dapat menyebar cepat layaknya wabah virus dikalangan para Alayers yang lain, sehingga menciptakan satu keseragaman bentuk yang sedikit tidak lazim.

Lalu, mengapa fenomena ini cepat menjadi?

Saya menilai bahwa semua prilaku ke-alay-alay-an tersebut pada akhirnya memang berpola sama, yaitu bahwa para alay tersebut berusaha menunjukkan sesuatu yang bukan merupakan bagian dari diri mereka yang sebenarnya. Dan, prilaku-prilaku tersebut biasanya muncul pada diri seseorang dengan didasari oleh rasa kurang percaya terhadap diri sendiri. Setidaknya, ada 2 golongan yang sangat-sangat sering diidentikkan dengan alay, yang pertama adalah masyarakat marginal, yang kedua adalah ABG (Anak Baru Gede). Jika dilihat dari kedua golongan tersebut, saya rasa adalah lumrah jika saya menduga bahwa fenomena tersebut memang berangkat dari masalah kekurangan percaya diri, karena ABG adalah kaum yang sangat-sangat rentan terhadap sindrom krisis identitas diri. Mereka adalah orang-orang dengan berbagai ekspektasi akan masa depan impian yang merasakan banyak sekali benturan dalam diri mereka untuk mencapai ekspektasi tersebut. Perasaan terbentur oleh keterbatasan diri tersebut sangat wajar mengakibatkan depresi akan identitas, dan saya rasa juga itu sebabnya kenapa musik-musik yang diidentikkan dengan alay biasanya adalah musik dengan aroma depresi, putus asa, patah hati dan lain sebagainya.

Jika saya petakan, mungkin seperti inilah proses bagaimana seseorang berubah menjadi penganut Alay;
1. Seorang remaja melihat banyak sekali contoh masyarakat yang "keren" dalam pandangan mereka.
2. Kemudian, timbullah keinginan untuk menjadi seperti orang-orang keren tersebut, berpenampilan menarik, memiliki pasangan yang juga menarik, dan hidup dikelilingi benda-benda yang juga keren. Dan mengidolakan tokoh-tokoh yang mereka kira seperti itu.
3. Keterbatasan diri mereka membuat mereka merasa minder, namun keinginan untuk menjadi "keren" tetap ada.
4. Keinginan itu diwujudkan dalam berbagai hal, foto yang diatur sedemikian rupa hingga terlihat bagus, gaya dandanan yang berusaha mengikuti orang-orang yang diidolakan, sampai menggunakan nama yang lebih berkesan 'catchy' atau kece.
5. Namun, tetap dalam diri mereka, rasa depresi itu ada, dan itu tergambar dari musik yang mereka dengar, bukan rahasia jika boyband yang dicap alay seperti Smash (maaf) sebagian besar lagunya adalah lagu putus asa, putus cinta, riang, dan lain sebagainya.
6. Efek lain dari krisis identitas diri salah satunya adalah over acting, yang kini telah berevolusi menjadi over segalanya atau biasa disebut lebay, jadi menurut saya tidak salah jika alay diidentikkan dengan lebay.
7. Selain itu, depresi dari sindrom identitas diri sangat memungkinkan seseorang menjadi sensitif dan mudah tersinggung, maka saya tidak akan heran jika ada alay yang membaca artikel saya ini dan marah-marah :P

Muslim Alay? Kok bisa?

Dan yang lebih mengkhawatirkan saya adalah banyak sekali para remaja atau orang dewasa lainnya, yang mereka kira dengan menyingkat terminologi-terminologi Islam adalah suatu gaya baru. Banyak yang mengira menyingkat frasa Islami menjadi kalimat pendek adalah bentuk modernitas gaya baru. Padahal kebiasaan ini sudah ada sejak lama dan bukan sesuatu yang baik untuk dibanggakan. Karena itu, terutama ABG, sering sekali meng-alay-kan frasa-frasa Islami. Dan lebih parahnya, mulai berani meng-alay-kan Asma Allah. Na'uzubillah.

Seperti mengubah Yaa Allah menjadi 'Yaolo' (contoh: Yaolo tolong!), menyingkat Astaghfirullaahal 'azhiim menjadi 'astajim'. Jujur saja, saya kaget ketika mendengar teman saya yang ketika sedang panik, pasti dia bilang astajim. Bahkan saya sering baca status teman di Facebook yang jika sedang marah pada suatu kondisipasti ngetik astajim. Entah karena malas ngetik, atau saking marah dan paniknya, atau malah karena sudah menjadi bagian dari muslim alay yang bangga menyingkat frase islami. Menyingkat assalaamu'alaikum jadi 'ass' (dalam bahasa Inggris ass berarti apa ya?) Lebih baik sempurnakan ucapan salam karena ucapan salam adalah doa, dengan mengucapkan 'camlequm' atau 'lamlekum', kita membatalkan sebuah doa. Na'uudzubillaah, semoga Allah swt menjauhkan kita dari yang demikian. Degradasi ajaran Islam, salah satunya melalui bahasa, sasaran empuknya melalui anak-anak dan generasi muda.

Ah sahabat, bolehlah engkau dengarkan sedikit nasihat dariku ini.

Sahabat, engkau akan lebih dihargai dan dihormati bila engkau menghargai dirimu sendiri. Percayalah. Engkau dilihat dari potensi dirimu. Bukan dirimu yang lain. Bukankah indah jika engkau bangga menggunakan namamu yang memang sudah indah itu menjadi jaminan kualitas dirimu? Lebih baik engkau muliakan dirimu dan orang yang engkau cintai.

Wallahu Ta'ala a'lam.

Sunday, October 07, 2012

Cintaku

Ketahuilah,
Jika engkau mencintaiku bersebab hanya karena kelebihanku, maka berhentilah!
Aku takut engkau tak siap menghadapi semua kekuranganku..

Jika engkau mencintaiku karena rupaku, maka berhentilah!
Kelak wajah ini akan tak ada artinya jika telah dimakan cacing di kubur..

Jika engkau mencintaiku karena hartaku, maka berhentilah!
Aku tak memiliki apapun selain dirimu, harta terindahku..

Aku juga tak memintamu mencintaiku karena kekuranganku,
karena itu adalah kelebihanku yang sedang berproses..

Aku takkan mensyaratkan separuh jiwaku padamu.
Engkau tahu mengapa?
Karena separuh jiwaku telah kuserahkan padamu,
dan kutahu tak ada jiwa lain dalam jasad ini selain yang ada padamu..

Aku takkan menjanjikanmu surga bila bersamaku.
Engkau tahu mengapa?
Karena bersamamu, hariku adalah surga..

Aku bukan begitu dan begitu bukanlah aku!
Aku tak ingin cintamu terbagi-bagi oleh semua yang aku miliki.
Aku hanya ingin engkau mencintai aku saja, tak ada alasan lain selain aku.

Sedangkan yang lain, itu hanya pelengkap diriku.
Artinya, engkau menyediakan diri untuk menerima semua yang ada padaku.
Tanpa alasan. Itu saja!

Begitulah caraku mencintaimu,
dengan menjaga dirimu dan diriku,
menjaga kesucian cintamu dan cintaku.

Semoga.

Sunday, September 30, 2012

Berbaris Nasihat, Sahabatku...

Cinta...
Ya, Cintaa...

Aku tahu, ini sebuah topik yang sangat menarik untuk diperbincangkan, selalu menarik, dan tak pernah akan ada habisnya :)
Bahkan, ada di antara kita yang 'jatuh bangun' dalam kehidupan cintanya dan sering dikecewakan karena pengkhianatan cinta. Dan mengetahui bahwa cinta itu hal yang buruk bila disalah-artikan. Tapi, masih saja tak 'kapok' untuk merasakan indahnya cinta, walaupun itu tak pernah dirasakannya.

Ahh..
Apa istimewanya cinta?
Ya aku tahu, cinta itu fitrah. Kehendak lahiriyah, kita ingin mencinta dan dicinta. Dan tak ada ajaran manapun yang melarang cinta. Indah memang si 'cinta' ini.

Teruntukmu sahabatku,
sebuah nasihat dariku, untukku pribadi, dan juga untukmu tentunya.
Coba dengarkan ini yaa..

Pribadimu, cermin kualitas calon pendapingmu!

Pernah mendengar ayat ini?
 "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). ..." (QS. an-Nuur: 26)

Ya, tepat sekali.

Betapa indahnya lantunan ayat di atas.
Siapapun yang menjadi pendampingmu berarti adalah pribadi yang sekualitas dengan dirimu. Mereka yang menginginkan pendamping yang baik, pastilah akan berusaha menjadi pribadi yang baik. Dan mereka yang baik pasti akan dipertemukan dengan orang yang baik pula. Begitu sebaliknya.


Untukmu saudariku,

Berdandanlah yang cantik,
Pakailah baju minim yang menarik!
Bebaskan dirimu dari semua aturan, bergaullah sesukamu.

Dan kau kan menemukan semua lelaki yang mendekatimu untuk bersenang-senang.
Buktikan saja. Coba biasakan tampilan, tutup 'perhiasanmu' (baca: aurat) dan sempurnakan, longgar dan tebalkan pakaian, jagalah akhlak dan sopan santunmu. Hati-hati dengan pergaulan!

Dan kau, InsyaAllah, akan dipertemukan dgn lelaki mendekatimu untuk mencari peluang bersanding di pelaminan. Lelaki yang menghormatimu. Sebab bagi sebagian lelaki, mencari wanita untuk bersenang-senang, dan mencari wanita untuk membina rumah tangga, itu langit dan bumi bedanya. Sangat amat sungguh dan memang berbeda sekali. (lebay gak sih?)

Dr. Farrah Gray pernah berucap,
"Searching for the right person starts with you becoming the right person."

Yup, tepat sekali!
Jika ingin disandingkan dengan pribadi yang baik, tak ada cara lain, engkau harus baik dahulu!
Tak usah membuang-buang waktumu dengan bermaksiat di hadapan Tuhanmu (baca: pacaran).
Engkau hanya menyia-nyiakan masa mudamu.

Tuhan telah menyiapkannya. Tak perlu khawatir. Karena kehancuran selalu diawali oleh pengingkaran terhadap larangan Tuhan. Tak usahlah kita berlebay ria dalam mencinta, seberapa besar cintamu mempengaruhi seberapa besar sakit hatimu ketika kau kehilangannya.

Tapi saya galau?
Iya, wajar! Anak muda yang tidak galau adalah anak muda yang tidak normal.
Galau itu proses pendewasaan jika engkau lihai dalam mengatur pola hatimu.

Hanya mereka yang menjadikan kegalauannya sebagai arena memperbaiki diri. Tidak memelas. Tidak memikirkan nasib yang dibuat sendiri. Tidak malas. Tidak sulit malam. Tidak susah tidur. Itu galau yang baik.

Untukmu, Saudaraku.
Wanita, ya, mahluk ini memang pandai "menggoda" hatimu.
Aku tahu itu. Benar kan?

Dengarlah ini,
Wanita yang baik itu adalah wanita yang pandai melihat potensi dirimu. Engkau dilihat dari kecerahan masa depanmu, bukan masa lalumu. Wanita yang menginginkan kebaikan hanya akan tertarik kepada laki-laki yang menghormatinya. Yang memuliakannya. Jadi, jadikanlah dirimu pribadi yang bertutur kata yang baik, sopan, dan setiap kata yang keluar dari mulutmu adalah kebenaran. Oh iya, Wanita itu mengidolakan laki-laki yang kharismatik. Yang menebar senyum. Yang setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu berharga dan paling dinanti. Bahkan ketika dia tidak datang pada suatu acara, orang-orang pasti akan menanyakannya. Yang tidak banyak bicara, tetapi sekali berbicara sangat mengena di hati. Buatlah dirimu menjadi pribadi yang berkharisma, yang terlihat dari tegapnya badan ketika berjalan.

Dan, tampan?
Bagiku ini bonus dan nilai plus jika engkau memilikinya.
Kukatakan ini, wanita mana yang tidak tertarik dengan laki-laki seperti itu?
Ini retoris, tak perlu kau jawab!

Dan untukmu para wanita, jika melihat laki-laki yang tiba-tiba berubah secara drastis menjadi seperti yang kukatakan. Jangan tertipu. Itu karena sudah aku beri tahu tipsnya.

Hehe, bercanda :P

"Kisah cinta paling romantis itu bukanlah Kisah Romeo & Juliet yang dengan bodohnya mati bersama..
Tapi kakek dan nenek yang tumbuh tua bersama dalam cinta."

Sampaikan ini pada Sang Pemilik Cinta Abadi, indah sekali kata-kata ini.
Serahkan pada Allah saja.
"Ya Aziz, Jika cinta adalah ketertawanan, maka tawanlah aku dengan cinta kepada-Mu. Agar tidak ada lagi yang dapat menawanku selain Engkau
Ya Rohim, jika cinta adalah pengorbanan, tumbuhkan niat dari semua pengorbananku semata-mata tulus untuk-Mu. Agar aku ikhlas menerima apapun keputusan-Mu
Ya Robbii, jika rindu adalah rasa sakit yang tidak menemukan muaranya, penuhilah rasa sakitku dengan rindu kepada-Mu dan jadikan kematianku sebagai muara pertemuanku dengan-Mu.
Ya Allah, jika ini baik bagi hidup dan agamaku, tolong dekatkan aku dengan cara-Mu.
Tapi, jika ini buruk bagi hidup dan agamaku, tolong jauhkan aku darinya dengan cara-Mu.
Aamiin.."

Segeralah Bertindak!
Katakan ini padanya.
"Adinda, Aku mencintaimu karena Allah.
Dan bila engkau juga mencintaiku karena Allah.
Maka serahkan saja pada-Nya.
Biarkan Dia yang mendekatkan kita dengan cara-Nya.
Aku ingin kita bersabar hai Adinda, karena aku mencintaimu dan aku menghormatimu.
Maka biarkan raga kita menjauh, dan kita pastikan bahwa hati kita akan semakin mendekat.
Mengertilah, hai Adinda.
Aku mencintaimu, tapi engkau harus bersedia aku nomor tigakan.
Yang pertama dan kedua adalah Allah dan Rasulullah.
Jadi, kita harus bersabar. Kita berpisah dahulu untuk sekarang yaa.
Aku takut setan memanfaatkan kelemahan kita dan mencari celah.
Aku takut azab-Nya yang tak luput dari kita.

Kita putus. Selamat tinggal. Biarkan kita saling memperbaiki diri dan mempersiapkannya."

"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)Ku. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah senantiasa bersama dengan orang-orang yang sabar."
(Al-Baqarah: 152-153)

 Allahu a'lam.

Thursday, June 02, 2011

Hakikat Pendidikan

Apa sih hakikat pendidikan? Apakah tujuan yang hendak dicapai oleh institusi pendidikan?

Agak miris lihat kondisi saat ini. Institusi pendidikan tidak ubahnya seperi pencetak mesin ijazah. Agar laku, sebagian memberikan iming-iming : lulus cepat, status disetarakan, dapat ijazah, absen longgar, dsb. Apa yang bisa diharapkan dari pendidikan kering idealisme seperti itu. Ki hajar dewantoro mungkin bakal menangis lihat kondisi pendidikan saat ini. Bukan lagi bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa (seperti yang masih tertulis di UUD 43, bah!), tapi lebih mirip mesin usang yang mengeluarkan produk yang sulit diandalkan kualitasnya.

Pendidikan lebih diarahkan pada menyiapkan tenaga kerja "buruh" saat ini. Bukan lagi pemikir-pemikir handal yang siap menganalisa kondisi. Karena pola pikir "buruh" lah, segala macam hapalan dijejalkan kepada anak murid. Dan semuanya hanya demi satu kata : IJAZAH! ya, ijazah, ijazah, ijazah yang diperlukan untuk mencari pekerjaan. Sangat minim idealisme untuk mengubah kondisi bangsa yang morat-marit ini, sangat minim untuk mengajarkan filosofi kehidupan, dan sangat minim pula dalam mengajarkan moral.

Apa sebaiknya hakikat pendidikan? saya setuju dengan kata mencerdaskan kehidupan bangsa. Tapi, ini masih harus diterjemahkan lagi dalam tataran strategis/taktis. kata mencerdsakan kehidupan bangsa mempunyai 3 komponen arti yang sangat penting : (1) cerdas (2) hidup (3) bangsa.

(1) tentang cerdas
Cerdas itu berarti memiliki ilmu yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan real. Cerdas bukan berarti hapal seluruh mata pelajaran, tapi kemudian terbengong-bengong saat harus menciptakan solusi bagi kehidupan nyata. Cerdas bermakna kreatif dan inovatif. Cerdas berarti siap mengaplikasikan ilmunya.

(2) tentang hidup
Hidup itu adalah rahmat yang diberikan oleh Allah sekaligus ujian dari-Nya. Hidup itu memiliki filosofi untuk menghargai kehidupan dan melakukan hal-hal yang terbaik untuk kehidupan itu sendiri. Hidup itu berarti merenungi bahwa suatu hari kita akan mati, dan segala amalan kita akan dipertanggungjawabkan kepada-Nya. Patut dijadikan catatan, bahwa jasad yang hidup belum tentu memiliki ruh yang hidup. Bisa jadi, seseorang masih hidup tapi nurani kehidupannya sudah mati saat dengan snatainya dia menganiaya orang lain, melakukan tindak korupsi, bahkan saat dia membuang sampah sembarangan. Filosofi hidup ini sangat sarat akan makna individualisme yang artinya mengangkat kehidupan seseorang, memanusiakan seorang manusia, memberikannya makanan kehidupan berupa semangat, nilai moral dan tujuan hidup.

(3) tentang bangsa
Manusia selain sesosok individu, dia juga adalah makhluk sosial. Dia adalah komponen penting dari suatu organisme masyarakat. Sosok individu yang agung, tapi tidak mau menyumbangkan apa-apa apa-apa bagi masyarakatnya, bukanlah yang diajarkan agama maupun pendidikan. Setiap individu punya kewajiban untuk menyebarkan pengetahuannya kepada masyarakat, berusaha meningkatkan derajat kemuliaan masyarakat sekitarnya, dan juga berperan aktif dalam dinamika masyarakat. Siapakah masyarakat yang dimaksud disini? Saya setuju bahwa masyarakat yang dimaksud adalah identitas bangsa yang menjadi ciri suatu masyarakat. Era globalisasi memang mengaburkan nilai-nilai kebangsaan, karena segala sesuatunya terasa dekat. Saat terjadi perang Irak misalnya, seakan-akan kita bisa melihat Irak di dalam rumah. Tapi masalahnya, apakah kita mampu berperan aktif secara nyata untuk Irak (selain dengan doa ataupun aksi)? Peran aktif kita dituntut untuk masyarakat sekitar...dan siapakah masyarakat sekitar? tidak lain adalah individu sebangsa.

inilah sekelumit tulisan yang saya jadikan pokok pemikiran buat apa itu hakikat pendidikan sebenarnya.

Tuesday, May 17, 2011

Cuma Sekedar Share aja,, Tugas B. Ind ane ...

-->
tugas bahasa indonesia




drama dengan judul “AKIBAT TIDAK MAU BELAJAR





diperankan oleh:

abdul rahman (03)
sebagai emen

aditya putra mardani (04)
sebagai putra

ahmad firdaus (08)
sebagai daus

farid ansori (13)
sebagai parid

mochammad syafitra (18)
sebagai pak tra

siti sarah habibah (28)
sebagai siti







SMK NEGERI 26 JAKARTA
JL. BALAI PUSTAKA BARU I, RAWAMANGUN TELP. 4720310 FAX. 47866889
JAKARTA 13220



-->
-->
Suatu hari di sekolah, ada beberapa siswa kelas tiga yang sedang menunggu gurunya datang untuk mengajar pendalaman materi.

Emen   : eh rid, ngapain si ni sekolah pake ada acara PM segala?
Parid    : ga tau, kaya kurang kerjaan aja.
Emen   : cabut aja yok!
Parid    : lagi males cabut gw. Tes dulu. Kalo PMnya ga enak, baru kita cabut besok.
Daus    : kalian ga boleh gitu. PM kan buat menambah ilmu kita.
Siti       : selain itu kita jadi tau apa yang sebelumnya kita ga tau.
Emen   : apa pentingnya dalam hidup gw?

Seorang guru pun masuk kelas untuk memberikan materi.

Pak Tra            : Assalamualaikum anak-anak.
Siswa   : Wa alaikum salam.
Pak Tra: apa ada yang tidak masuk?
Daus    : tidak ada pak.
Pak Tra: apa kalian sudah baca buku tentang materi yang bapa berikan kemarin?
Siti        : sudah pak.
Pak Tra: kalian sudah? (menunjuk kearah Emen dan Parid)
Emen   : belom pak.
Pak Tra: kenapa belum?
Parid    : males pak. Ga penting.
Pak Tra: seharusnya kalian berpikir. Belajar itu bukan semata-mata hanya untuk sebuah nilai. Tetapi untuk mencari ilmu, karena ilmu berguna di dunia dan di akhirat.
Emen   : ok pak sip.
Pak Tra: seharusnya kalian contoh teman kalian itu si Daus dan Siti. Mereka tu belajar mati-matian demi masa depan mereka.
Parid    : mereka terus pak kayanya yang di puji. Saya bosen pak.
Emen   : tau ni bapak. Saya kek pak sekali-kali yang di puji.
Pak Tra : kalian kalo di bilangin bandel banget sih. Kalian berdua berdiri sekarang di depan kelas sampai PM selesai.

Mereka berdua pun berdiri sampai PM selesai.
Setelah PM selesai, mereka berduapun mengobrol.

Parid       : men, ternyata PM ga enak juga ya?
Emen       : gw bilang juga apa. Susah si lu kalo da bilangin.
Parid       : yauda, besok cabut aja yok.
Emen       : yoi yoi. Tapi masa berdua doang?
Parid       : ajak si Putra juga lah. Dy kan bego, ama kita aja kalah pinternya.
Emen       : ok lah. Biar gw aja yang ngomong ama dy.

                Keesokan harinya. Ketika para siswa akan melakukan PM lagi, mereka berdua melakukan perencanaan untuk bolos sekolah dan mengajak Putra untuk ikut dengan mereka berdua.

Emen       : eh coy, cabut yok.
Putra       : gw kan udah bego masa mw cabut.
Parid       : yaelah, masih kaku aja. Ngapain tw lu PM, ga guna tw ga lu.
Putra       : gw kan pengen belajar. Masa hidup gw suram mulu.
Emen       : yaelah, lu belajar tiap hari, tapi kenyataannya masih bego kan lu.
Putra       : iya jga ya. Yaudah yok cabut.

                Mereka bertiga pun bolos dan terlibat tawuran antarsekolah. Ketika mereka bertiga terlibat tawuran, Daus dan Siti yang baru pulang sekolah melihat mereka bertiga sedang terlibat tawuran.

Daus        : Siti lihat dah, kayaknya mereka bertiga teman sekelas kita tuh.
Siti           : iya bener tuh.
Daus        : kita kembali ke sekolahan yuk. Sebaiknya kita beritahu Pak Tra.
Siti           : yaudah yuk.

Mereka berdua pun kembali ke sekolah dan melaporkannya kepada guru mereka (Pak Tra).

Siti           : Pak Tra, maaf pak kami berdua ke sini mau melaporkan sesuatu pak.
Pak Tra    : melaporkan apa?
Daus        : gini pak, tadi ketika kami berdua mau pulang, kami melihat teman sekelas kami Putra, Parid, dan Emen terlibat tawuran.
Siti           : iya pak, malahan mereka membawa nama sekolah tercinta kita ini pak.
Pak Tra    : dimana?
Daus        : di depan mol Aroin pak lawan anak Raelis.
Pak Tra    : apa sekarang mereka masih tawuran?
Siti           : sudah tidak pak.
Pak Tra    : ya sudah, besok akan bapak tegur di kelas kalian.
Daus        : baik pak.

                Keesokan harinya ketika jam pelajaran di mulai. Mereka pun belajar seperti biasa. Tetapi Parid dan Emen tidak mau  belajar sehingga mereka pun hanya santai-santai ketia guru memberikan materi.

Pak Tra    : kalian berdua! Apa kalian tidak mau belajar dengan bapak?
Emen       : iya pak iya. Kita belajar deh.
Parid       : iya pak. Saya khilaf.
Pak Tra    : untuk kalian berdua, sepulang sekolah ke kantor bapak ya. Kamu juga Putra!
Putra       : lah! Saya salah apa pak? Saya kan ga ikut-ikutan.
Pak Tra    : sudah kamu lakukan saja apa yang bapak perintahkan!
Putra       : iya pak.
Daus        : kalian sih ga mau belajar.
Siti           : tau ni. Kita aja cape-cape belajar buat masa depan.
Pak Tra    : sudah-sudah jangan berdebat. Pokoknya untuk kalian bertiga sepulang sekolah ke kantor bapak!
Parid, Emen, dan Putra: iya pak!

                Sepulang sekolah mereka bertiga ke kantor untuk menghadap Pak Tra. Sesampainya di kantor mereka pun bertemu dengan Pk Tra.

Anak nakal: assalamualaikum pak!
Pak Tra    : wa alaikum salam. Silahkan duduk.
Anak nakal: iya pak terimakasih.

(Pak Tra pun langsung menampar mereka satu per satu. Sedangkan mereka bertiga hanya diam saja)

Pak Tra    : kemarin ada laporan dari teman kalian kalau kalian terlibat tawuran. Sekarang kalian betiga sudah lampu kuning. Itu artinya jika kalian melakukan  hal itu lagi. Maka, kalian akan di DO. Sekarang kalian bertiga buat surat pernyataan dan tanda tangan orag tua, dikumpulkan besok!
Anak nakal: iya pak!

                Ketika mereka bertiga keluar dari kantor.

Putra       : ah kapok gw ikut lu berdua. Gw mw tobat ah.
                  Ga mw ikut lu lu pada lagi. Gw mw belajar
Parid       : siapa suruh lu ikut? Gw juga palingan berhenti tawuran.
                  Tapi tetep aja gw males ama yg namanya belajar
Emen       : iya rid, sama gw juga males.



                Walau Putra sudah sadar dengan perbuatannya selama ini. Tetapi mereka berdua tetap tidak mau belajar.
                Satu bulan kemudian ketika UN akan di mulai. Mereka berdua sibuk mencari kunci jawaban. Mereka mendapat kunci jawaban yang di maksud dan mengajak Putra untuk mengikuti kunci jawaban tersebut.

Parid       : eh coy gw dapet kunci jawaban ni. Mw ga lu?
Putra       : kaga ah, gw kan udah belajar. Walaupun gw bego tapi kan gw usaha sendiri.
Emen       : yaelah, belajar tuh ga penting. Yang penting tuh hasil akhir.

Parid       : tau ni anak. Lu tau ga, sekolah tuh buat ngambil ijazah. Bukan jadi kutu buku. Setiap hari pikiran kita hanya dipenuhi dengan tekanan,, yang ada kita malah males datang kesekolah. Singa sirkus,, kita bisa bilang kalo singa itu TERLATIH, tapi kita gak bisa bilang kalo singa itu TERDIDIK. SINGA itulah KITA ...
Putra       : tetep aja gw ga mw. Nyontek itu kan dosa. Gw ga mw ama dosa. Dosanya buat lu aja dah.
Emen       : ok kalo itu mau lu. Pokoknya gw udah nawarin ya.

                Bel pun berbunyi dan seluruh siswa masuk kelas. Ujian yang berat pun di mulai karena ini adalah ujian untuk menentukan lulus tidaknya siswa yang melaksanakan UN.
                Ketika UN di mulai Parid dan Emen kesulitan untuk menjawab soal-soal sendirian dan mencontek kearah Daus dan Siti yang berada di depannya masung-masing.
                Saking sulitnya mereka mencontek kearah Daus dan Siti, mereka berdua pun menyalin kunci jawaban yang mereka dapatkan tadi.
                Ujian pun selesai dan para siswa pun lega dengan berakhirnya ujian tersebut. Tetapi tidak dengan Parid dan Emen, mereka berdua gelisah karena mereka ragu dengan kunci jawaban yang mereka dapatkan tadi.

Daus        : Alhamdulillah, lega juga akhirnya gw bisa ngerjain tu soal ujian.
Siti           : gw juga lega Alamdulillah. Untung aja tadi malem gw udah belajar.
Putra       : iya juga ya. Karena kita belajar, kita jadi bisa ngerjain tu soal. heheh
Daus        : iya sama, gw juga belajar.
                  Eh eh liat dah Parid ama Emen. (sambil melihat kearah Parid dan Emen yang sedang gelisah)
                  Kayanya tu anak berdua ga bisa ngerjain tu soal. Makannya mereka gelisah.
Siti           : kayanya iya. Kita samperin yuk.
Putra       : yuk

Daus        : kenapa lu berdua? Kayanya gelisah banget?
Emen       : iya nih. Gw jadi ragu ama jawaban gw sendiri.
Siti           : makannya kalian berdua belajar, jangan nyariin kunci jawaban mulu.
Parid       : kita liat aja pas pengumuman kelulusan nanti.

                Hari pengumuman kelulusan pun tiba dan seluruh siswa jantungnya berdetak kencang dan tidak sabar. Tetapi mereka berdua (Parid dan Emen) gelisah karena tidak bisa menjawab soal ujian kemarin dan hanya mengandalkan kunci jawaban.

Pak Tra    : siswa yang lulus adalah Siti,……. Daus,…….. dan yang terakhir Putra.
Anak-anak : yeeeee…
Pak Tra    : kalian Parid dan Emen tidak lulus. Selamat mencobanya lagi tahun depan.

                Parid dan Emen hanya tertunduk malu karena hanya mereka berdua yang tidak lulus. Setelah ujiannya di periksa ternyata kunci jawaban yang di terima Parid dan Emen salah 49, dan hanya satu jawaban yang benar.

                Mereka berdua sadar akan perbuatannya selama ini dan merubah sikapnya.

PESAN DARI KAMI: BELAJARLAH DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH UNTUK MENDAPATKAN ILMU KARENA ILMU AKAN MEMBAWA KITA PADA KESUKSESAN DAN MEMBAWA HIDUP KITA MENJADI LEBIH BAIK. SETELAH,BELAJAR, JANGAN LUPA DI AMALKAN, KARENA JIKA DI AMALKAN, NISCAYA ILMU YANG KITA AMALKAN ITU AKAN MENJADI BEKAL KITA DI AKHIRAT KELAK, INSYA ALLAH ...

Saturday, May 07, 2011

Motivasi Diri

“Ngomong-ngomong tentang motivasi diri, mengapa setelah mengikuti seminar motivasi, motivasi tidak bertahan lama?” Menyangka motivasi itu permanen, adalah kesalahan yang pertama. Alasan kedua ialah kita akan kehilangan motivasi jika kita hanya mengharap motivasi dari luar. Sebab motivasi terkuat datang dari diri sendiri.




Faktor Motivasi Diri

Dalam berbagai buku NLP disebutkan bahwa hanya ada dua faktor motivasi diri yaitu mengejar kenikmatan dan menghindari kesengsaraan atau rasa sakit. Namun jika saya kerucutkan lagi, hanya ada satu faktor motivasi, yaitu cinta. Semakin besar cinta kita, akan semakin besar motivasi yang bangkit.
Lihatlah, banyak orang yang sampai nekat bunuh diri karena putus cinta. Ini menggambarkan bahwa cinta memiliki kekuatan untuk menggerakkan diri kita, bahkan untuk hal-hal yang buruk dan tidak masuk akal. Mungkin Anda sudah banyak mendengarkan kisah cinta picisan, apa pun dilakukan “karena cinta”.
Joe Vitale menyadari kekuatan cinta sebagai motivator utama setelah dia melihat film 50 First Dates (2004) (50 Kencan Pertama) yang menggambarkan usaha seorang pria yang setiap hari berusaha membuat seroang wanita jatuh cinta kepadanya. Usaha ini dilakukan setiap hari, karena sang gadis pujaan memiliki ingatan yang mampu mengingat cuma 1 hari. Ini hanya salah satu dari sekian kisah cinta dalam film.
Anda bisa memanfaatkan kekuatan cinta ini untuk mendapatkan motivasi diri. Tentu saja, tidak sebatas cinta terhadap lawan jenis, tetapi cinta kepada hal lainnya juga. Saat Anda mencintai pekerjaan Anda, Anda akan memiliki motivasi yang cukup saat bekerja. Lihatlah pemasin sepak bola, di tengah jadwal yang ketat, mereka tetap enjoy bermain di lapangan, karena mereka mencintai profesinya sebagai pesebak bola.

Motivasi Diri Paling Kuat

Namun, ada cinta yang paling kuat. Saat Anda tidak memiliki cinta ini, sungguh Anda sudah menyia-nyiakan hidup Anda. Inilah cinta yang paling besar, yang memotivasi para mujahid di medan perang. Tidak takut mati, tidak takut rasa sakit, tidak takut apa pun, demi cinta ini. Cinta ini tiada lain, cinta kepada Allah.
Karena bekerja adalah bagian dari ibadah. Begitu juga bisnis adalah bagian dari ibadah. Dan, ibadah adalah sebagai cinta kita kepada Allah, maka kerja dan bisnis kita juga adalah perwujudan cinta kita kepada Allah. Seharusnya, saat kita bekerja dan bisnis, kita akan memiliki motivasi yang tinggi.
Sudahkah?

Mari kita pancangkan niat kita, bahwa kerja dan bisnis kita untuk beribadah. Marilah kita pupuk kesadaran kita, bahwa bisnis dan kerja kita adalah salah bentuk wujud cinta kita kepada Allah.
Adakah perasaan cinta kita kepada Allah? Jika terasa kurang, maka iman kita harus ditingkatkan lagi. Sebab cinta kepada Allah hanya dimiliki oleh mereka yang beriman.

Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. (QS Al Baqarah:165).

Jadi, motivasi diri bisa dikembangkan dengan meningkatkan iman kepada Allah secara terus menerus. Cinta kepada kepada Allah semakin tinggi, motivasi diri pun semakin tinggi.