English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Wednesday, February 13, 2013

Valentine's Day: Sebuah Kecelakaan Budaya

Hemm..

Bisa jadi, tanggal 14 Februari setiap tahunnya adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh banyak remaja, baik di negeri ini maupun di belahan bumi lain. Katanya, atau apalah namanya. Hari itu sebagai hari untuk mengungkapkan kasih sayang. Bla. Bla. Bla. Valentine Day ini, 'konon' adalah momen berbagi, mencurahkan segenap kasih sayang kepada "pasangan"-nya masing-masing dengan memberi hadiah berupa coklat, permen, mawar, dan lainnya. Caileeh.

Itu baru yang biasa. Ada lagi. Yang luar biasa. Berdua-duaan, dan selanjutnya nista dalam perangkap zina yang lebih besar. Na'uzubillah.

Tetapi, ada satu pertanyaan yang ingin saya tanyakan kepada para pengusung yang tetap saja membenarkan dan melakukan pembelaan terhadap perayaan Valentine ini;

Benarkah ia hanya terbatas pada kasih sayang belaka?

Adalah fakta bahwa setiap melalui malam valentine selalu dilakukan dengan maksiat. Tak usah saya sebut, Anda tahu sendiri apa saja kemaksiatannya.

"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)."
(QS. Al-An'am: 116)

Kasihan jika saya katakan. Menyedihkan. Budaya 'latah'. Taqlid buta. Ikut-ikutan. Ketidaktahuan sejarah.

Asal sejarah yang tidak jelas;

Banyak sekali versi mengenai asal-muasal perayaan valentine ini. Sehingga terjadinya simpang-siur sejarah yang tidak jelas. Ada yang mengatakan perayaan ini berasal dari ritual pagan bangsa romawi kuno, perayaan ini merupakan ungkapan -dalam agama paganis Romawi- kecintaan terhadap sesembahan mereka. Ada pula yang mengaitkan sejarah ini dengan St. Valentine, seorang agamawan Nashrani. St. Valentine dibunuh karena pertentangannya dengan penguasa Romawi pada waktu itu, Raja Claudius II (268 - 270 M). Dimana pada waktu itu, Raja Claudius melarang para tentara dan pemuka agama untuk menikah. Untuk mengenang dia (St. Valentine), yang dianggap sebagai simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan dalam menghadapi hidup, maka para pengikutnya memperingati kematian St. Valentine sebagai 'upacara keagamaan'.

Tetapi sejak abad 16 M, 'upacara keagamaan' tersebut mulai beransur-ansur hilang dan berubah menjadi 'perayaan bukan keagamaan'. Hari Valentine kemudian dihubungkan dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut "Supercalis" yang jatuh pada tanggal 15 Februari. Setelah orang-orang Romawi itu masuk agama Nasrani, ritual 'supercalis' kemudian dikaitkan dengan upacara kematian St. Valentine. Penerimaan upacara kematian St. Valentine sebagai 'hari kasih sayang' juga dikaitkan dengan kepercayaan orang Eropa bahwa waktu 'kasih sayang' itu mulai bersemi 'bagai burung jantan dan betina' pada tanggal 14 Februari.

Ya ya. Cukup. Terlalu panjang jika saya jelaskan lebih jauh lagi. Anda bisa mencarinya sendiri di internet.

"Dan janganlah kamu megikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya."
(QS. Al-Israa': 36)


Paling tidak ada 4 hal yang perlu saya tekankan di sini;

Pertama, sumber dasar dalam merayakan ritual ini. pada awalnya berasal dari aqidah kaum pagan (penyembah berhala), supercalis, namun seiring berjalannya waktu, hal ini berubah menjadi upacara keagamaan dan dikait-kaitkan dengan St. Valentine. Dan lebih jauh lagi, makna sekarang sudah sangat berbeda, dalam perayaannya (maksiat).

Kedua, kita seolah lupa dengan sabda Rasulullah, "Tidak berman salah seorang di antara kamu, sebelum ia mencintai saudaranya seperti kecintaannya kepada dirinya sendiri." See? Islam sendiri sangat menjunjung tinggi rasa kasih sayang. Tidak pernah ada larangan dalam mengungkap kasih sayang, tetapi jika caranya saja sudah salah, bagaimana nantinya. Kasih sayang bukanlah semenit atau dua menit. Dan mengapapula kita harus bekiblat pada Valentine?

Ketiga, idealisme perayaan ini. Valentine jelas-jelas bukan bersumber dari Islam, melainkan bersumber dari rekaan pikiran manusia yang minimalis yang diteruskan oleh pihak gereja.

Keempat, segi pelaksanaannya. Valentine, pada umumnya diadakan dengan acara hura-hura, pesta pora, dan hal-hal yang lebih menjjorok kepada perbuatan zina. Na'uzubillah.

Sudahlah. Tidak perlu! Bukankah Allah itu sendiri ar-Rahman dan ar-Rohim, Maha Pengasih dan Maha Penyayang?

Lihatlah mereka. Barat. Kehancuran mereka sudah di depan mata. Gaya hidup hedonis dan materialis telah menjadikan mereka vampir yang selalu haus menghisap darah ideologi kita, Islam. Hati mereka kosong, mereka tak lebih dari sebuah 'robot' yang bernyawa.

Selanjutnya, pertanyaan yang kini muncul adalah;

Islam itu Indah, Adakah diri kita seindah Islam?

Tentukan sikap.

Allahu a'lam.

#Free Tag and Share. Share and save more :)

Wednesday, January 30, 2013

Realitas Semu: Penantian Akan Penghakiman

Realitas politik adalah bahwa dunia sedang berada dalam peperangan yang tak pernah berhenti sejak Qabil membunuh saudaranya sendiri, Habil. Ini adalah konsep sempurna yang dibuat Tuhan untuk menjelaskan bahwa dosa terbesar yang dilakukan umat manusia di muka bumi adalah saling membunuh.

Tengoklah Afrika, dimana kekerasan sipil di Aljazair tak pernah berhenti antara GIA, kelompok-kelompok jihad, dan yang lainnya. Di Mesir, perang sipil yang sama menentang rezim yang berkuasa saat itu berlangsung bertahun-tahun. Di Asia, Cina sebagai negara komunis terbesar di dunia memaksakan pengaruh dan tekanan pada Tibet dan Taiwan agar tidak berada pada jalur disharmoni dengan konsep-konsep komunisme mereka. Di perbatasan India-Pakistan, wilayah Kashmir bukanlah tempat yang nyaman untuk ditinggali. Di Eropa, kekerasan sektarian PIRA dan IRA di Irlandia telah membunuh ribuan keluarga tak berdosa. Di Irlandia Utara, Katolik dan Protestan nyaris tak pernah bersatu karena ideologi dipaksakan berbaur ke dalam wilayah politik. Di Amerika Latin, pertikaian lebih banyak disebabkan oleh masalah ekonomi. Perdagangan narkoba ternyata mampu menghidupi jutaan keluarga, hingga membuat usaha ini membangun komunitas dan paramiliter untuk mengawal pundi-pundi kerajaan bisnis mereka. Di Kolombia dan Meksiko, kekerasan dan perang karena perdagangan heroin merupakan kejahatan yang paling banyak membunuh warga mereka. Di Timur Tengah, suku kurdi dan PKK terus menerus meracau perbatasan Turki dan Irak, menimbulkan gejolak regional antara kedua negara. Di Irak ada masalah yang sama, namun akar perang di negeri itu adalah intervensi Amerika yang tidak dapat diterima akal sehat. Bukan semata karena masalah ekonomi, namun juga masalah teologi, satu hal yang disebut Bush sebagai Perang Salib II. Di Afganistan, persoalannya hanya berpindah tangan, penggerak invasi ke negeri itu diambil alih Amerika Serikat dari Uni Soviet. Dan yang paling memprihatinkan tentu saja adalah perang abadi antara Israel dan Palestina demi perebutan wilayah dan eksistensi antara tiga agama suci Islam, Kristen, dan Yahudi di tanah surga. Selain itu semua, Korea Utara, Iran, Suriah, Kuba dan Venezuela mengantri di barisan terdepan untuk memercikkan api.

Perang, perang, perang.... Tahukah Anda kalau ini semua tidak berlangsung secara kebetulan? Perang diciptakan oleh orang-orang yang disebut sebagai The Warlords, segelintir pemain senjata yang didukung kekuatan dana dari Pemilik Modal Internasional. Industri persenjataan adalah salah satu industri termahal di dunia. Mereka yang bermain di dalam industri ini memiliki kekayaan untuk membeli planet-planet. Karena itu, perang perlu direkayasa. Carilah bibit konflik, hasut satu kelompok, bisikkan api ke telinga kelompok lainnya, tanamkan doktrin ego kelompok dan ras, entitas kebanggaan sebagai suku atau bangsa, kepribadian kompleks, apapun namanya. Gunakan media untuk menyalurkan berbagai macam fitnah, lalu selundupkan senjata dan biarkan mereka saling bunuh. Selamat datang. Selamat datang di dunia belantara. Perang diperlukan, karena perang adalah uang.

Realitas alam dan lingkungan adalah kehancuran fisik bumi. Karena isu pemanasan global yang menjadi bahasan paling hangat sejak awal abad millenium ini. Film An Inconvenient Truth begitu menyesakkan dada ketika Al Gore memaparkan secara detil apa yang akan dihadapi bumi kecil ini dalam beberapa tahun ke depan. Ketika sebagian es Greenland dan Antartika mencair beberapa tahun kemudian, maka hampir seratus juta orang di Shanghai, Beijing, dan sekitarnya akan tenggelam. Kalkuta dan Bangladesh bagian timur, di mana enam puluh juta jiwa hidup dan bermukim di sana, akan kehilangan tempat tinggal. Belanda akan mengalami nasib yang sama dengan Atlantis, hilang dari peta dunia. Manhattan terapung tak berdaya, teluk San Fransisco menjadi kolam raksasa dan ratusan pulau di Indonesia lalu bersama angin.

Selain itu, ceruk ekologi tidak lagi mampu mengikuti perubahan ekosistem yang menyalahi aturan alam. Mengakibatkan pemusnahan hewan-hewan seribu kali lebih banyak daripada kepunahan secara alami. Bangunan-bangunan kaca seperti The Mosaic sengaja sengaja dibangun untuk merusak atmosfer di atas langit Amerika oleh kelompok-kelompok tertentu. Karena pada dasarnya kehancuran bumi ini memang dipercepat. Mengapa? Karena begitulah mereka menginginkannya.

Realitas kependudukan termasuk di dalam masalah lingkungan. Sepanjang kehidupan manusia, diperlukan waktu lebih dari tujuh ribu tahun untuk mencapai tingkat populasi enam milyar orang. Namun lihatlah, berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk membuat bumi kita disesaki separuh lagi dari jumlah populasi dunia saat ini? Sepuluh hingga lima belas tahun ke depan! Perkiraan demografis dan ramalan statistik menyebutkan bahwa pada tahun 2025 penduduk dunia akan mencapai angka sembilan milyar orang. Tujuh ribu tahun untuk mengumpulkan enam miliar mahluk-mahluk ini dan satu dekade ke depan lagi untuk tiga miliar bayi-bayi baru. Ada yang aneh dalam proses biologi kita.

Dari dulu hingga sekarang, masa kehamilan tetap sembilan bulan. Namun mengapa kaum perempuan seolah-olah menjadi pabrik manusia-manusia baru? Tekanan populasi meningkatkan permintaan pada makanan, air minum, kebutuhan-kebutuhan pokok, dan lain sebagainya. Dan bumi kita nyaris tak lagi dapat menahan beban itu. Ia telah memberikan segalanya, hutan, air, kebun, tanah, mineral.

Realitas ekonomi adalah kehancuran sistem moneter ribawiah yang dipelopori Amerika Serikat serta sebagian besar negara di dunia. Budaya kapitalisme hanya mampu bertahan dua abad, sebelum rontok sebagai daun yang berguguran. Karena publisitas kapitalisme dikuasai oleh segelintir investor pemilik modal yang bermain rapi di puncak gunung, mengusung demokrasi liberal dengan penuh tipu daya. Amerika Serikat telah mengendalikan ekonomi lebih dari dua pertiga penduduk dunia. IMF, WTO, Bank Dunia, dan segala macam badan keuangan yang dibentuk untuk memberikan bantuan kepada negara-negara berkembang dan dunia ketiga selama puluhan tahun tidak memberikan dampak apapun kepada kepentingan negara yang bersangkutan.Liberalisasi perdagangan diatur oleh undang-undang yang mengisap darah negara dengan sumber daya kaya, seperti minyak di Irak, emas di Afrika Selatan, kopi di Brazil, dan segala sumber daya di Indonesia. Hingga sampai pada batas dimana para vampir itu harus memaksakan keinginannya dalam pengelolaan hak ekonomi negara lain. Dan akhirnya perang pun dikobarkan dan siklus berputar.

Perang tentu saja menyulut anggaran yang besar. Dua perang dunia yang diciptakan dengan pola kejatuhan ekonomi menjadi saksi sejarah pembunuhan terbesar umat manusia. Ketika Amerika tidak bisa memenangkan perang melawan segelintir mujahid Irak saat itu, maka dampak terbesar kejatuhan bangsa itu dimulai dengan mengeroposnya anggaran dalam negeri. Sektor-sektor vital seperti kredit perumahan dan otomotif menjadi macet dan amburadul. Enron adalah sebuah perusahaan keuangan raksasa yang telah memberikan contoh bagaimana manajemen keuangan jatuh pada kehancuran yang teramat cepat ketika dikelola bersama resiko yang mereka sebut sebgai efek bubble.

Efek bubble hanyalah sebuah fantasi. Seratus persen ribawiah. Amerika adalah Enron besar yang saat ini berdiri sempoyongan menunggu badai yang lebih kencang sebelum tumbang dan menutup buku sejarah peradaban.

Jika Anda bisa meluangkan waktu sejenak untuk mengamati beberapa realitas yang saat inisedang terjadi dan sedang bergerak dengan cepat menuju titik klimaks, maka Anda akan memahami bahwa apa yang sedang dihadapi umat manusia sabuah pola yang didesain dengan begitu indah oleh Tuhan dan digerakkan oleh tangan-tangan manusia. Kita sedang mengisi kepingan terakhir dari puzzle peradaban, mencocokkan satu peristiwa dengan peristiwa yang lain, menghubungkan setiap kejadian, menata kerusakan kemudian menghancurkannya lagi, dan berpikir, 'Gambar apakah yang dibentuk oleh permainan ini ketika kepingan terakhir kita taruh di tempat terakhir?'

Setiap realitas merupakan peristiwa-peristiwa pendukung yang bergerak bersama-sama dengtan kerusakan itu sendiri menuju sebuah kehancuran yang sempurna. Pada akhirnya, realitas sesungguhnya harus dikembalikan kepada sebuah model yang disebut 'keyakinan'.

Agama adalah patok terakhir yang paling esensial dari keberadaan umat manusia di muka bumi. Baiklah, alam semesta akan marah, para politikus membuat kebijakan perang yang dianggap stimulus ekonomi, aktifis lingkungan yang meneriakkan protes yang tenggelam bersama limbah dan asap pabrik, entitas sosial tidak bertindak ketika pornografi menyerang rumah-rumah mereka melalui televisi, film dan internet, dan dikonsumsi oleh anak-anak mereka, para tentara diberi hak internasional untuk tidak dapat dihukum karena membunuh, para ekonom hanya mampu berteori sementara investasi tipuan membuat pemain kecil di sektor riil terdesak oleh gurita-gurita kapitalis dalam gerbong kereta yang hanya memberika piliha, 'ikut bersamaku atau kulempar keluar'. Maka, setiap peristiwa memiliki satu kepingan sendiri. Strukturnya dibuat sesuai dengan kepingan lain disebelahnya. Karena itu pula dapat ditaruh di tempat yang berdampingan dan saling melengkapi.

Bila kita kembali pada agama, maka sejarah tidak akan berarti banyak Karena sejarah ditulis oleh pemenang. Seringkali para pemenang merekayasa sejarah demi kepentingan anak cucu mereka di masa depan. Ingatlah, bahwa sejarah tidak abadi. Ia hanya rangkaian huruf yang bercerita bagaimana mahluk yang bernama manusia membangun sebuah peradaban yang indah dan kemudian menghancurkannya. Membangunnya lagi, lalu meruntuhkannya kembali. Begitu seterusnya dan membiarkan siklus berputar. Setelah tujuh ribu tahun, manusia modern tidak lebih pentar daripada homo sapiens purba. Kerusakan yang sama, pembunuhan yang sama, kekerasan yang sama. Yang berbeda hanya jumlah darah yang tertumpah membasahi bumi ini yang membuat bumi kita terus menangis.

Hakekatnya, semestinya hanya ada satu agama yang mewakili umat manusia di muka bumi ini. Agama yang sama yang dibawa Musa, Isa, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan utusan Tuhan lainnya. Satu agama yang tidak menyembunyikan kebenaran dan menyebarkan dusta. Satu agama yang memberikan ketenangan dimana manusia bisa menyembah Tuhannya karena mensyukuri atas apa yang diberikan-Nya. Realitasnya, ada ratusan agama di muka bumi ini. Sebagian besar timbul karena pemahaman yang salah akan sejarah, dan selebihnya karena budaya pengkultusan benda-benda alam atau budaya kebodohan.

Tibalah saatnya nanti, ketika semua manusia dikumpulkan dihadapan-Nya. Hingga tiba perkataan Tuhan yang memojokkan mereka di kemudian hari, "Untuk apa kalian berbuat kerusakan, kesombongan, tipu daya, dan keserakahan, jika tempat kembali kalian hanya kepada-Ku juga?"

Allahu a'lam. Semoga Allah menjagaku dari kata-kataku.

Risalah Inspirasi;
1. The Greatest Design, Zaynur Ridwan
2. Wikipedia.org
3. Dokumen Pribadi

Thursday, January 10, 2013

Analogi Sinergi Umat: Berjamaah Yang Mencerdaskan III

Oh, sudah edisi yang ketiga yaa? -hehe

Kita tak henti-hentinya diajak untuk terus belajar, belajar akan ilmu yang Allah sediakan meliputi langit dan bumi beserta komponen penyusunnya. Jiwa ini adalah jiwa perindu. Jiwa ini merindukan ilmu, kini jiwa ini merindukan surga.

Baiklah. Kini kita akan belajar dari lebah. Ya, lebah.

"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: 'Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia.' Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan." (QS. an-Nahl [16]: 68-69)

Allah menganugerahkan kemampuan yang luar biasa pada mahluk ini. Mereka hidup dalam komunitas sosial yang teratur dan terorganisir dengan baik. Sinergi mereka saling mengokohkan. Sinergi mereka saling menguatkan. Mereka adalah kekuatan alam yang bersama, berjamaah. Jumlah koloni atau masyarakatnya antara 30.000 sampai 80.000 ekor. Ada lebah ventilator yang menjaga ventilasi sarang lebah. Mereka bertugas menjaga kelembaban sarang, yang membuat madu memiliki kualitas perlindungan tinggi. Suhu sarang harus setidaknya 35 derajat Celsius selama sepuluh bulan pada tahun tersebut. Pada kelembaban di atas atau di bawah batas ini, madu akan rusak serta kehilangan kualitas perlindungan dan gizinya.

Propolis. Adalah nama zat yang dikeluarkan lebah yang bertugas menjaga sarang dari zat-zat lain yang akan masuk. Jika ada zat asing atau serangga yang memasuki sarang, secara bersama sama lebah akan membentuk sistem pertahanan dengan mengeluarkan propolis tersebut.

Sarang yang dibangun lebah dapat menampung 80.000 lebah yang hidup dan bekerja bersama-sama. Sarang tersebut dibangun atas sarang madu berdinding lilin lebah, dengan ratusan sel-sel kecil pada kedua permukaannya. Semua sel sarang madu berbentuk segi enam sama persis, hexagonal. Menurut para ahli, pembentukan sarang dengan bentuk hexagonal seperti adalah cara yang terbaik dan efektif sebagai sebuah tempat untuk menyimpan makanan dan memelihara lebah muda. Karena setiap sisi akan terisi dan menempel pada sisi yang lainnya. Keajaiban teknik ini adalah buah pencapaian melalui kerja kolektif ribuan lebah.

MaasyaAlllah. Tak ada apapun yang mengajari mereka, kecuali Allah-lah yang telah mengilhami mereka sehingga berada dalam keteraturan seperti itu.

Oh tidak tidak. Tentu saja tidak hanya itu. Kerjasama yang harmonis juga terlihat ketika seekor lebah menemukan nektar atau cairan manis yang terdapat pada bunga. Ia akan kembali ke sarang untuk memberi tahu lebah lain. Informasi itu ia sampaikan dengan tarian. Ya, tarian yang indah. Tarian yang diulang-ulang mengandung semua informasi tentang sudut, arah, jarak, dan informasi lain tentang sumber makanan, sehingga lebah lain dapat mencapai tempat itu. Sebuah sinergi yang luar biasa!

Lebah madu dapat mengetahui kalau bunga yang ia temui telah didatangi dan diambil nektarnya lebih dahulu oleh lebah lain, sehingga ia segera meninggalkannya. Langkah ini menjadikan ia mampu menghemat waktu dan tenaganya.

Lalu, bagaimana? Bagaimana seekor lebah bisa tahu jika bung tersebut sudah diambil nektarnya?

Ini terjadi karena lebah yang mendatangi bunga terlebih dahulu menandainya dengan tetesan berbau khas. Begitu seekor lebah mengunjungi bunga yang sama, ia akan mencium bau tersebut dan mengetahui bahwa bunga tersebut sudah diambil madunya. Lagi-lagi merupakan lukisan kerja sinergi yang mengagumkan. MaasyaAllah!

Sama seperti semut (Baca: Analogi Sinergi Umat: Berjamaah Yang Mencerdaskan II), di dalam koloni lebah terdapat lebah ratu. Lebah ratu adalah pemimpin dari para lebah. Tugasnya adalah menghasilkan generasi-generasi terbaik yang akan meneruskan perjuangan mereka. Lebah jantan akan mati setelah melakukan tugasnya untuk membuahi lebah ratu.

Kehebatan Lebah;
Berjamaah itu Mencerdaskan. Berjamaah adalah sebuah keniscayaan. Sinergi dan kebersamaan adalah sebuah keteraturan. Sinergi tanpa kebersamaan akan bernilai kosong, namun kebersamaan tanpa sinergi adalah kebodohan.

Ayat 68-69 surat an-Nahl, yang saya kutip di atas, yang berbicara tentang lebah itu diakhiri dengan firman-Nya: 'Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang berpikir'. Kini, keputusan ada di tangan kita. Bersediakah kita berpikir lalu meneladani bagaimana lebah bersinergi? Semoga.

Allahu a'lam..

---------------------------------------------------------------------------------------------

 Daftar Pustaka;
1. Menyingkap Rahasia Akan Semesta, Harun Yahya
2. Prophetic Learning, Dwi Budianto
3. Wikipedia.org
4. Youtube.com

Sunday, January 06, 2013

Analogi Sinergi Umat: Berjamaah Yang Mencerdaskan II

Kita kembali diajak untuk terus belajar. Kita kembali diajak belajar dari ayat kauniyahnya Allah. Ya, alam semesta ini. Tidakkah engkau memikirkannya, kawanku?

Marilah kita belajar dari semut. Ya, komunitas semut. Jika kita amati, al-Qur'an memberikan perhatian khusus terhadap semut. Bahkan, surat ke-27 dalam al-Qur'an dinamai sebagai surat an-Naml yakni surat semut. Uraian tentang semut dalam al-Qur'an berkaitan dengan kehadiran Nabi Sulaiman 'alayhis-salam bersama pasukan beliau menelusuri jalan dimana terdapat banyak tempat koloni semut. Ratu semut lalu menginformasikan bahaya itu pada masyarakatnya, sebagaimana dikisahkan al-Qur'an;

"Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari; maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo'a: "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni'mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh."
(QS. an-Naml: 18-19)

Sejumlah pakar menjelaskan adalah komunitas yang memiliki sistem kehidupan sosial yang canggih dan terorganisir. Ada koloni yang dihuni 45.000 sarang yang saling berhubungan dalam wilayah seluas 2,7 kilometer persegi. Di dalamnya hidup sekitar 1.080.000 semut ratu dan 306.000.000 semut pekerja! Tidak ada yang mendidik mereka hingga berada dalam keteraturan itu, kecuali Allah subhanahu wa Ta'ala yang mengilhami mereka.

Sebagaimana angsa, (baca: Analogi Sinergi Umat: Berjamaah Yang Mencerdaskan), semut mengelola kehidupan koloninya melalui kerja-kerja sinergi yang luar biasa. Ada semut ratu yang bertugas dalam hal reproduksi koloni. Semut jantan yang membuahinya mati, begitu menyelesaikan tugas pembuahan.

Ada semut pekerja yang merupakan semut betina yang steril. Mereka bertugas merawat bayi-bayi semut, membersihkan dan memberi mereka makan. Jika musim paceklik, semut pekerja berubah peran menjadi pemberi makan bagi sesamanya. Mereka memberi partikel makanan yang berasal dari tubuhnya.

Ada juga semut yang bertugas membangun koloni dan menemukan lokasi tempat tinggal dan beburu. Semut kenis ini juga berperan dalam pertahanan dan keamana koloni. Jika ada burung atau predator lain yang mendekati sarang mereka, mereka mengarahkan perut menutupi sarang lubang sarang menyemprotkan zat asam ke arah burung tersebut. Sistem pertahanan lain yang dimiliki semut adalah menutup lubang sarang dengan kepala-kepala semut apabila ada bahaya yang mengancam.

Semut juga memiliki keunikan yang lain. Mereka membangun jalan-jalan panjang secara bersama-sama. Beban yang berat akan mereka bawa bersama-sama pula. Beberapa pakar juga menjelaskan bahwa kelompok-kelompok semut menentuka waktu-waktu tertentu untuk bertemu menukar makanan. Luar Biasa! MaasyaAllah!

Sinergi Semut: Perjuangan Bertahan Hidup!  

Allahu a'lam..

--------------------------------------------------------------------------

Daftar Pustaka;
1. Menyingkap Rahasia Alam Semesta, Harun Yahya
2. Prophetic Learning, Dwi Budiyanto
3. Youtube.com

Friday, January 04, 2013

Analogi Sinergi Umat: Berjamaah Yang Mencerdaskan

Mari kita belajar. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengajarkan kita makna berjamaah. Berjamaah adalah sebuah keniscayaan. Sinergi adalah kunci kesuksesan membangun pribadi dan peradaban. Sadarilah bahwa hampir semua kesuksesan yang terjadi selalu menyertakan kebersamaan. Gelar adalah kiasan. Pahlawan adalah kebersamaan, bukan pribadi. Sebuah sukses besar yang dilakukan oleh seorang pahlawan senantiasa menyiratkan catatan bahwasanya ia tidak sendiri dalam perjuangannya. Pahamilah ini. Mari kita belajar dari angsa yang sering bermigrasi.

"Dan apakah mereka tidak memerhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu."
(QS. al-Mulk [67]: 19)

Akhir-akhir ini saya sering membaca buku-buku Harun Yahya. Dan itu membuat saya termenung karena sering memikirkan bagaimana luar biasanya Allah menciptakan alam semesta beserta seluruh komponen penyusunnya. MaasyaAllah.

Harun Yahya, dalam bukunya "Menyingkap Rahasia Alam Semesta", menjelaskan bahwa ada sinergi yang dahsyat luar biasa dalam cara mereka (angsa) terbang. Mari kita perhatikan. Kawanan angsa ini selalu terbang menuju daerah yang lebih hangat dengan membentuk formasi V. Mereka bermigrasi dari daerah dingin.

Ternyata, terbang dengan formasi ini dapat menambah daya terbang mereka. Beberapa pakar menyatakan bahwa mereka mampu terbang 71 persen lebih jauh ketimbang terbang sendiri-sendiri. Dietrich O. Hummel, seorang insinyur penerbangan, telah membuktikan bahwa dengan pengaturan seperti ini, secara umum kelompok dapat menghemat energi hingga 23%. MaasyaAllah.

Jika angsa bagian depan letih, ia akan pindah ke belakang dan membiarkan angsa lainnya mendahuluinya dan mengambil alih pimpinan. Setiap kali angsa keluar dari formasinya, dia akan mengalami daya tahan udara yang besar dan kesulitan terbang sendiri. Akhirnya, ia akan kembali ke dalam formasi.

Angsa-angsa tersebut juga sering bersuara serempak saat terbang. Cara ini bertujuan memberikan semangat kepada setiap anggota kelompok dan memupuk motivasi bagi yang ada di depan. Dengan cara ini pula, ritme terbang mereka tetap terjaga. Jika kemungkinan ada salah satu angsa yang sakit atau letih dan keluar dari formasi, dua angsa lain akan mengikutinya turun. Dua angsa ini akan melindungi dan menolong angsa yang sakit dan keluar dari formasinya tersebut. Dua angsa itu akan menunggu angsa sakit itu hingga sembuh atau mati. Lalu, mereka akan segera bergabung ke dalam formasi, atau menciptakan formasi sendiri untuk menyusul angsa yang lain.

MaasyaAllah! Sungguh luar biasa cerdas! Dengan membagi arus udara akibat kepakan sayapnya, bergilir memimpin, menciptakan motivasi kelompok dan dukungan bagi yang memimpin, menjaga untuk tetap berada dalam formasi, dan menolong yang terluka.

Berjamaah yang mencerdaskan. Angsa-angsa itu mampu melakukan aktivitas berlipat-lipat ketimbang jika sendirian.

Allahu a'lam.

Tunggu seri berikutnya, Analogi Sinergi Umat: Berjamaah Yang Mencerdaskan II

Daftar Pustaka;
1. Menyingkap Rahasia Alam Semesta, Harun Yahya
2. Prophetic Learning, Dwi Budiyanto

Wednesday, January 02, 2013

Hanya Ingin Tahu Jalan ke Pasar?

Menarik. Ada sebuah kisah yang ingin saya ceritakan kepada sahabat semua.

Ada potret menarik di kalangan Shahabat Nabi. Mereka betul-betul merupakan sosok yang mandiri. Mereka lebih memilih memberi manfaat daripada mengambil manfaat dari orang lain.

Al-Bukhari meriwayatkan, tatkala kaum Muhajirin tiba di Madinah, Rasulullah mempersaudarakan mereka dengan kaum Anshar. Salah satunya, beliau mempersaudarakan Abdurrahman bin Auf dengan Sa'd bin ar-Rabi'.

Sa'd berkata kepada Abdurrahman, "Sesungguhnya aku adalah orang yang paling banyak hartanya di kalangan Anshar. Ambillah sebagian hartaku itu untukmu. Aku juga mempunyai dua istri. Maka lihatlah nama yang engkau pilih, agar aku bisa menceraikannya. Jika masa iddahnya sudah habis, maka kawinilah ia!"

Abdurrahman berkata, "Semoga Allah memberkahimu, dalam keluarga dan hartamu. Lebih baik tunjukkan saja dimana letak pasar kalian?"

Maka, orang-orang pun menunjukkan pasar Bani Qainuqa'. Tak berapa lama, Abdurrahman sudah mendapatkan sejumlah samin dan keju. Jika pagi hari tiba, dia sudah pergi ke pasar untuk berdagang.

Setidaknya, ada dua poin yang bisa kita ambil hikmahnya dari kisah ini. Pertama, menunjukkan kemurahan hati kaum Anshar terhadap saudara-saudara mereka dari kalangan Muhajirin. Mereka rela berkorban, lebih mementingkan saudaranya, mencintai, dan menyayangi mereka. Dan kalangan Muhajirin, sungguh besar kehormatan bagi mereka, karena mereka tidak mau menerima dari saudaranya, kaum Anshar, kecuali sekadar makan yang bisa menegakkan tulang punggung.

Kedua, orang-orang Muhajirin, mereka adalah sosok yang mandiri, yang tidak ingin menjadi beban bagi orang lain. Mereka akan lebih senang bekerja, daripada menerima bantuan yang tidak berumur panjang.

 --------------------------------------------------------

Itulah potret masyarakat yang berpikir, bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Bukan malah sebaliknya. Cara pandang seperti inilah yang bisa membuka bagi jalan hidup masyarakat yang sejahtera, di atas rata-rata. Kita sangat ingat betul pada masa Kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz, dimana ketika itu keadaan sangat sulit mendapatkan orang-orang yang berhak menerima zakat. Umar bin Abdul Aziz berhasil membangun peradaban yang memberi, peradaban yang gemilang.

Ada lagi, masih pada zaman Umar bin Abdul Aziz, Zaid bin al-Khatab bercerita, "Umar bin Abdul Aziz hanya memegang pemerintahan selama dua tahun setengah, atau 30 bulan. Dia belum meninggal, hingga seorang laki-laki datang kepada kami dengan harta melimpah. Dia berkata 'Bagikan harta ini ke fakir miskin menurut pandangan kalian.' Kemudian laki-laki membawa harta tersebut untuk dibagikan ke fakir miskin. Dia terus mencari-cari orang yang akan menerima harta itu, tetapi tidak menemukannya. Lalu dia kembali membawa pulang harta itu. Allah telah mencukupi rakyat melalui tangan Umar bin Abdul Aziz."

Namun, era keemasan itu sudah lewat. Ia akan menjadi goresan catatan indah dalam lembaran-lembaran sejarah. Kini, ummat banyak yang menjadi pengemis, lemah secara finansial, lemah akidah, dan rapuh akhlaknya. Seperti yang digambarkan oleh Rasulullah, "Seperti buih di lautan". Buih itu diombang-ambing ombak, banyak, namun tak berkualitas.

Tugas siapa?

Tak perlu dijawab. Itu retoris bagi saya. Mulailah dengan diri sendiri.

Wednesday, December 26, 2012

Mengapa Hidup Harus Bermanfaat?

Saya jadi teringat ucapan populer dari Syaikh Aidh al-Qarni, "Orang yang pertama kali akan dapat merasakan manfaat memberi adalah pihak yang memberi itu sendiri. Mereka akan merasakan 'buah' memberi seketika itu juga, dalam jiwa, akhlak dan nuraninya. Sehingga mereka selalu lapang dada, merasa tenang, tenteram dan damai."

Ya. Benar. Hidup itu harus banyak memberi manfaat. Bukan menerima (diberi) manfaat.

Kita sudah cukup gelisah dengan gaya hidup materialis dan hedonis. "Yang penting, hidupku enak, rumahku nyaman, keluargaku sehat-sehat, karirku sukses, mobilku berkelas. Persetan dengan urusan orang lain!"

Gaya hidup seperti ini adalah gaya hidup yang dibangun dengan semangat nafsi-nafsi. Atau dalam istilah populer orang Betawi, "Loe-loe, gue-gue." Tak perduli apakah tetangga kanan-kiri kelaparan. Tak perduli di pojok-pojok kota kemiskinan menjaja. Tak ambil pusing. Inilah dunia sekarang.

Rekayasa telah mengubahnya menjadi dunia belantara. Dimana bahasa global kita adalah kekuatan besi dan baja; bahasa bisnis kita adalah persaingan; bahasa politik kita adalah penipuan; bahasa sosial kita adalah pembunuhan; bahasa jiwa kita adalah kesepian, keterasingan. Kita adalah masyarakat sipil berwatak militer, hancur sana, hancurkan sini; masyarakat peradaban berbudaya primitif. Kita adalah manusia-manusia sepi di tengah keramaian, manusia-manusia merana di tengah kemelimpahan. Luarnya tampak bahagia, padahal dalamnya sebenaranya menderita.

Khairun-naasi anfa'uhum lin-nas. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Kata Rasulullah.

Saya akan tutup tulisan singkat ini dengan sebuah nasihat;
"Butir-butir embun turun dari arah langit. Ia muncul bumi secara sembunyi-sembunyi, tanpa dilihat manusia. Jadilah butir-butir embun itu; bertakwa, banyak, dan tersembunyi."

Saturday, December 22, 2012

Teruntukmu, Ibu..

Aku ingat betul saat itu, wajah kesurgaan itu sayu memandangku, dengan penuh cinta dan kelembutan sembari memegang tanganku, ia berkata;

Kurang lebih seperti ini jika aku bahasakan dari bahasa daerahku;

"Nak, jadilah apapun yang engkau mau. Kejarlah apapun yang engkau citakan. Jadilah orang yang berguna bagi bangsa dan agamamu. Aku tak punya hak untuk menentukan masa depanmu, kamu adalah mahluk terindah yang Allah amanahkan padaku. Dan kewajibanku, ialah membesarkanmu, merawatmu, mendidik dan menjagamu. 

Masalah cita-cita, jadilah apapun yang engkau mau. Ibumu kan selalu mendukung dan mendoakanmu. Tetapi satu hal, ibu akan sangat berbangga padamu jika engkau bisa menginjakkan kaki di tanah suci.

Jadilah orang yang berguna, dan sebagai awalnya, jadilah orang yang baik pada orang-orang di sekitarmu, dan pada masyarakat.

Masalah jodoh, pun untuk masalah ini, carilah wanita manapun. Paras tak penting, tetapi pilihlah yang akhlaknya baik.

Nak, ibu tak butuh apa-apa darimu, ibu hanya ingin engkau bahagia dengan caramu sendiri."

Aahh, begitulah yang dapat kurekam, yang terpatri takkan pernah terlupakan. Aku memang tak bisa berkata apapun saat itu, selain hanya mencoba menahan dentuman perasaan, sembari memeluknya.

Ibu, lihatlah anakmu ini. Terima kasih. Simpan air matamu sekarang, simpanlah itu nanti, saat aku telah menggenggam matahariku. Sebagai tanda bahwa aku tahu itu bukan tangisan kesedihan, melainkan tangis kebahagiaan.

Aku tahu, satu tindakan nyata mampu meruntuhkan seribu perkataan.

Monday, December 03, 2012

Gak Bilang "Wow" Bisa Kali!

"Terus, gue harus bilang wow gitu?" Kadang-kadang saya sering sekali tertawa geli jika mengingat frasa ini. Kata-kata yang memang sedang 'happening' banget akhir-akhir ini. Bahkan, tidak hanya remaja-remaja alay yang sering menggunakan frasa ini, tetapi mulai dari anak-anak, pegawai kantoran, sampai ibu-ibu yang setiap pagi beli sayur di abang gerobak dorong..hehe

Terus, apa kita harus jingkrak-jingkrak, salto, terus lompat dari apartemen lantai 30 sambil bilang wow gitu karena fenomena ini? Ya tidak juga. Tapi kalo mau ya silakan, tapi jangan cari saya jika ada apa-apa pada diri Anda.

Biasanya sih yang saya tahu, kata "wow" diucapkan jika seseorang melihat, mendengar, dan merasakan sesuatu yang menakjubkan. Tapi, masa sih setiap melihat sesuatu yang seperti itu kita harus selalu bilang wow? Cape deh. --"

Nah, disinilah letak terlihatnya degradasi ajaran Islam pada masyarakat kita, khususnya para remaja. Karena, tak ada kata yang lebih indah selain mengucapkan kata-kata thoyibah (baik) lagi berpahala untuk kita. Bukankah kita selalu di ingatkan dalam 'buku suci' kita (baca: Qur'an) ?

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertanggungjawabannya."
(QS. Al-Israa': 36)

Nah lho? Main ikut-ikutan aja sih.

Ucapkanlah "MasyaAllah" bila melihat, mendengar, dan merasakan sesuatu yang menakjubkan. Ini sesuai dengan tuntunan dalam Al-Qur'an dan bahasa Arab. Dan berpahala lagi. Di dalam Al-Qur'an pun bisa kita jumpai,

"Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu "maasyaAllaah, laa quwwata illaabillaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan."
(QS. Al-Kahfi: 39)

Orang Arab tidak menebang pohon kurma, dan salto sambil bilang wow jika melihat sesuatu yang yang menakjubkan. Jangan menilai ini Arabisasi. Karena sebutan ini merupakan dzikir kepada Allah. Ini adalah ibadah.

Subhanallah gimana?
Tidak masalah. Ini juga kalimat baik. Tapi, sering terjadi kesalahan kondisi pengucapan pada masyarakat kita. Subhanallah sering diucapkan oleh masyarakat kita bila menemui hal yang menakjubkan. Padahal dalam Al-Qur'an, kata subhanallah sendiri dipakai untuk mensucikan Allah dari hal-hal yang tidak pantas. Lagi-lagi bukan kata "wow" ya..

"Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah (subhanallah), dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik."
(QS. Yusuf: 108)

Kita hanya perlu penyesuaian ucapan. Bisa juga "Allahu Akbar" jika melihat yang mengagumkan, atau pada saat berjalan pada jalan yang mendaki. Dan pada jalan yang menurun "Subhanallah".
Bila menemukan musibah, atau berita buruk, ucapkanlah "Innalillahi wa inna ilaihi roji'un". Inilah yang Al-Qur'an tuntunkan untuk kita. Lagi-lagi bukan koprol sambil bilang "wow".

"Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.""
(QS. Al-Baqarah: 155-156)

Misalnya, ada teman Anda yang bilang "Sorry nih gue telat, tadi di rumah, kucing nenek tetangga gue mati. Jadi telat deh." (apa hubungannya?)
Jangan dijawab, "Terus gue mesti kawin sama kucing sambil bilang wow gitu?"
Ada ucapan yang lebih baik yaitu, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Jangan salah kaprah jika ucapan ini hanya disebutkan pada saat mendengar berita kematian.

Gimana kalo dapat sesuatu yang menyenangkan?
Lagi-lagi tidak perlu bilang wow. Apalagi sambil ngangkat patung selamat datang di Bundaran HI. Tapi ucapkan "Alhamdulillah". Inilah ucapan syukur. Lagi-lagi bukan bilang wow sambil ngemut tugu monas.

Kalo mau memulai sesuatu bilang "Bismillahir rahman nir rahiim". Masa mau makan bilang wow, ke toilet bilang wow, naik angkot bilang wow, mau tidur bilang wow, apalagi yang harus bilang wow?

Dan jika melakukan kesalahan, ucapkan "Astaghfirullah hal 'adzim", bukan "wow" lagi. Dan gak harus keliling RT pake speaker sambil bilang wow juga. Tapi kalo mau, ya silakan.

Nah inilah letak keindahan Islam. Segalanya bernilai amal dan pahala. Karena untuk kebaikan, Allah menyediakan banyak cara.

Wow.

Eh... Wallahu a'lam bish-shawab. :D

Sunday, November 25, 2012

Orang Jahat = Orang Baik Yang Tersiksa

Yang sama-sama harus kita pahami ialah pada dasarnya sejak awal manusia dilahirkan, sifat dan moral manusia itu baik. Pandanglah bahwa setiap orang jahat berasal dari jiwa-jiwabaik yang tersiksa karena terlalu banyakmenemukan keburukan.

Pahamilah bahwa Tuhan tidak pernah menzhalimi hamba-Nya bahkan sebesar zarrah, tetapi hamba tersebutlah yang menzhalimi dirinya sendiri. Lalu timbullah prasangka bahwa Tuhan telah menzhaliminya,

Na'udzubillah.

Percayalah.
Bahwa Tuhan tidak akan pernah mengabaikan kebaikan yang hamba-Nya perbuat bahkan sebesar zarrah, seperti yang termaktub dalam 'Lembaran Suci-Nya' (baca: Qur'an).

Allahu a'lam.

Sunday, October 21, 2012

Kreativitas Menolong Peradaban...

3000 ORANG PASUKAN MUSLIM itu tiba di Ma'in, sebelah selatan Syam. Mereka berhenti dalam keterkejutan. Bayangkan! Di hadapan mereka, tentara Romawi telah bersiap-siap dengan armada yang sangat besar. Heraklius, sang pemimpin Romawi, tidak tanggung-tanggung dalam menyiapkan pasukannya. 200 ribu lebih pasukan telah siap menghadang. Rinciannya: 100 ribu pasukan berasal dari Romawi dan 100 ribu lainnya merupakan pasukan gabungan dari suku Lahm, Balqin, dan Hira.

Melihat kenyataan itu, ada yang mengusulkan agar panglima perang Muslim mengirimkan surat ke Madinah, kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam untuk menambah personel pasukan. Akan tetapi, Abdullah bin Rawahah segera memberikan penegasan, "Tidak! Inshaallah, karena imam yang melekat dalam dada kita, kita akan mampu menghadapinya." Maka bergeraklah 3000 orang pasukan Muslim itu ke utara dan berhenti di Mu'tah.

Hari-hari berikutnya adalah catatan sejarah yang tak pernah akan terhapus. Pertempuran sengit terjadi di Mu'tah. Perlawanan yang menyebabkan panglima pasukan Muslim menemui kesyahidan satu per satu. Pada awalnya panglima Zaid bin Haritsah. Menyusul kemudian Ja'far bin Abi Thalib, dan berikutnya Abdullah bin Rawahah. Kesyahidan mereka persis seperti yang dikabarkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam sebelum mereka berangkat. Dalam situasi genting itu, Khalid bin Walid ditunjuk sebagai panglima.

Ketika pasukan Muslim telah terdesak dan panglima-panglima perangnya menemui kesyahidan satu demi satu, Khalid tampil sebagai pemimpin. Ia menyadari bahwa satu-satunya cara untuk mengalahkan musuh adalah dengan strategi! Ia melihat wajah-wajah pasukannya yang letih dengan goresan pesimis yang mulai muncul. Seandainya bukan karena keimanan yang mereka miliki, pastilah mereka telah lari dari pertempuran.

Khalid menukar posisi pasukan. Mereka yang sebelumnya berada di sayap kanan dipindah ke sayap kiri. Begitu pula sebaliknya. Pasukan garda depan ditukar dengan pasukan di posisi lain. Sementara itu, beberapa pasukan ditugaskan untuk berkuda di belakang dengan rombongan kecil-kecil, tetapi kelihatan berkesinambungan. Strategi ini mengecoh pasukan lawan. Mereka mengira bahwa pasukan Muslimin mendapat tambahan pasukan yang besar. Pasukan-pasukan lawan berhadapan dengan wajah-wajah baru. Dan, ketika mereka melihat ke bagian belakang pasukan Muslim, mereka menyaksikan kepulan debu, dari kuda yang dipacu, membumbung ke angkasa. Mereka mengira pasukan Muslim mendapat tambahan pasukan dalam jumlah besar. Mental mereka jatuh. Saat itulah pasukan Muslim memukul balik lawan mereka.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kita belajar dari Khalid. Ketika banyak di antara pasukan Muslim dilanda kecemasan, Khalid mengembangkan cara berpikir kreatif. Khalid bin Walid mengajarkan kepada kita agar tidak sekadar berpikir kritis (what-is), tetapi berkaitan dengan pemikiran yang berhubungan dengan apa yang dapat dilakukan (what can do). Yakni cara berpikir untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan merancang langkah maju dan bukan langkah mundur.

Islam tidak mendidik kita untuk meratapi dan menyesali keadaan yang kita miliki, tetapi Islam mendorong setiap muslim untuk menghadapi kenyataan dengan kreatif. Kita sangat ingat dengan peristiwa Perang Badar. Rasulullah dan para shahabat tidak menyesal bahwa yang mereka temui bukan kafilah dagang yang dipimpin Abu Sufyan, tetapi 1000 orang pasukan multi-nasional Quraisy. Mereka menghadapinya dengan gelora keimananan dan kreativitas yang cemerlang. Dan apa yang terjadi? 313 pasukan Muslimin berhasil mengalahkan kesombongan mereka.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Wednesday, October 10, 2012

Belajar dari Thariq bin Ziyad

Masih ingat yang dilakukan Thariq bin Ziyad tatkala akan menaklukkan Spanyol?
Ya, membakari perahu-perahu yang ditumpangi pasukannya untuk menyebrang ke daratan itu.
Ketika pasukannya dicekam oleh ketidakmengertian, saat itu Thariq mengatakan;

"Di belakang kita hanya terbentang lautan. Perahu-perahu kita telah musnah. Tak ada lagi kesempatan untuk mundur. Sementara itu, kita saksikan di depan kita musuh bersiap menanti. Tak ada pilihan lain bagi kita kecuali menjemput kemenangan atau mati dalam kesyahidan."

Begitulah yang dapat kita rekam.
Kita dapat mengetahui efek yang ditimbulkannya.
Pasukan itu mengalami penggandaan semangat dan keberanian yang luar biasa.
Thariq bin Ziyad sedang menepis pikiran pasukannya untuk mundur dan lari dari pertempuran.

Wallahu a'lam.

Thursday, September 20, 2012

Gue Memilih Islam, Karena...

"Kenapa gue memilih menjadi muslim?" Akhirnya setelah rada gedhe, pertanyaaan yang beginian muncul juga di kepala. Dan seharusnya, sebagai manusia yang sudah bisa berpikir, harus donk gue mulai berpikir untuk jawaban kenapa itu. Hal yang beginian emang kudu, soalnya ya gue nggak mau dipikir cuma sekedar dapat "iman warisan" atau ikut- ikutan ortu atau keluarga yang memang dari sononya udah memeluk agama Islam.

Yups, dan proses mencaripun akhirnya dimulai. Ternyata, nggak sesusah yang gue pikirin.hehe Bahkan dari pikiran gw dan pengetahuan yang minimalis ini, gue semakin mantab untuk menjadikan Islam sebagai Agama.

Pertama, Sementara agama lain meyakini tuhan mereka yang "banyak", dalam Islam, gue diajarkan untuk hanya menyembah tuhan yang satu dan satu-satunya, yaitu Allah. Allah tidak memiliki anak, cucu atau Ortu, apalagi asisten (hehe). Hanya Allah saja sang penguasa langit dan bumi. Maka dari itu, tidak boleh ada ketundukan kepada siapapun, kecuali hanya kepada Allah, seperti disebutkan Dalam Al Quran, "Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)."
(Az-Zumar: 2-3).

Kurang? Mau lebih jelas?

Listen this, "Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia."
(QS. Al-Ikhlas: 1-4)

Konsep ini sangat simple dan mudah banget ditangkap atau dipahami siapapun. Gue juga terkesan dengan ibadah sholat. Selain mengajarkan disiplin, orang yang menegakkan sholat akan bener-bener tau caranya berterimakasih, dan nikmatnya ketemu dengan The Creator, Sang Pencipta. Ini bisa mencegah seseorang dari mengerjakan hal-hal maksiat. Tentu sajalah, gimana cerita orang yang habis maksiat, trus bisa pede ketemu Tuhannya.. Dengan sholat juga, kita bisa "bersih" dari segala dosa. Ibarat kata, seseorang yang mandi sehari sampai lima kali, nggak mungkin kan masih ada kotoran melekat di tubuhnya?

Kedua, hanya dalam Islam, gue bisa nemuin aturan detail mulai dari urusan kamar mandi sampai urusan negara, dari urusan kita lahir sampai mati, dari segala pernak pernik cewek dan urusan cowok, sampai apapun yang ada di langit dan di bumi, Semua tertulis komplit...plit...plit di Alquran dan Hadist. Hal yang kaya' gini, yang nggak ada di agama lain.

Ketiga, konsep keadilan di Islam tuh jelas. Yang baek masuk surga, yang jahat ya ke neraka. dan nggak maen- maen, balasan di surga itu jauh lebih baik banget dari pada yang udah kita lihat di dunia. Ini seperti disabdakan Rasulullah SAW, "Allah berfirman, 'Aku telah sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih kenikmatan surga yang belum pernah dilihat mata, didengar telinga, serta terlintas di hati manusia" (HR. Bukhari & Muslim).

Dan sebaliknya, orang yang jahat dan durhaka kepada Allah akan berakhir tragis di neraka, seperti difirmankan Allah dalam Alquran, "... Setiap kulit tubuh mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan adzab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. An Nisaa' :56).

So, nggak akan ada cerita, orang yang berbuat baik nggak bakalan bahagia, dan sebaliknya, nggak akan bisa juga orang yang berbuat jahat leluasa tanpa hukuman.

Next, gue juga terkesan karena Islam mengajarkan manusia berbagi lewat berzakat. Nggak seperti budaya kapitalis dimana yang miskin nambah jadi miskin, dan yang kaya tambah kaya, atau dengan bahasa lain, kita jadi acuh sama saudara disekitar kita yang nggak tau mereka udah makan atau belum. Islam juga melindungi banget kehormatan cewek dengan jilbab dan kerudung, sementara nggak ada aturan yang beginian aku temuin di yang lain-lain. Secara gitu, seorang cewek memanglah indah buat dilihat dari segi manapun. Makanya biar nggak jadi 'murahan', para cewek kudu dan wajib nutup auratnya. Lagian kalau dilihat juga lebih adeem dari pada yang dipamerin nggak jelas gitu. Nggak cuma masalah tubuh dan aurat, Islam juga mengajarkan tata cara cewek bergaul, berdandan, bersikap, tentang kewajiban, bahkan sampai hak warisnya pun dibahas dengan fair dan detail sedetail-detailnya.

Subhanallah...

Ini semua dilakukan karena Islam memang sangat memuliakan wanita. Dan hal yang sama juga berlaku buat para cowok. Nggak cuma hubungan sesama manusia, bahkan dengan alam atau binatang sekalipun, semua dikupas tuntas dalam Islam dengan perfect banget deh. Dalam hal makanan, Islam juga paten banget dalam mengatur. Islam hanya memperbolehkan kita makan yang baik-baik dan yang didapatkan dengan cara yang baik juga. Allah berfirman, "Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan; karena sesungguhnya syaithan adalah musuh yang nyata bagimu." (QS. Al Baqarah:168).

Itu bukti kalau Allah memanglah Maha Pengasih kepada hambanya. Oh ya, kata siapa Islam identik dengan kekerasan? Islam banget-banget menekankan untuk kita berbuat baik kepada siapapun. Bahkan untuk urusan memilih agama aja, nggak ada paksaan tuh buat masuk Islam, seperti tertulis dalam Al Quran, "Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)..." (QS. Al-Baqarah: 256).

And then, Islam juga mengajarkan untuk kita selalu baeek sama orang lain, seperti disabdakan Rasulullah, "Tidak sempurna iman seseorang dari kalian, sebelum ia mencintai saudaranya (sesama muslim) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri."

One more, banyak banget ternyata keajaiban Al-Quran yang diungkap di jaman modern ini. Dan mereka, para peneliti itu, bukan orang yang ilmunya pas-pasan, melainkan ahli yang mantab banget dibidang mereka masing-masing. keajaiban itu mulai dari urusan langit sampai hal- hal yang ada di bumi. Ini menandakan kalau Al-Quran memanglah bukan buatan manusia yang ilmunya terbatas banget. Begitulah, kenapa gue akhirnya memilih Islam, dan hal yang diatas itu cuma sebagian kecil alasan kenapa gue mantab memilih Islam. Kesimpulan yang gue dapat, jika dibandingkan dengan yang lain dari segi apapun dan dari sudut manapun, Islam akan tetap jadi yang paling utama.

Lha wong Islam udah komplit bangeett gini. Masih ragu-ragu ber-Islam?
Nggak percaya? Buktikan saja sendiri!!!

Islam akan berjaya, itu pasti!!
Pertanyaannya, mau terlibat atau hanya mau jadi penonton? That's ur choice :)

Saturday, August 25, 2012

Pergi itu...

Pergi itu...

Tak lebih dari sebuah kata...
Hanya berarti tubuhku tak lagi di sana, beralih ke tempat lain entah di sini,

Tapi bagaimana mungkin aku harus ragu bahwa hati-hati kita tak lagi di sana...

Entahlah...

Aku begitu yakin bahwa hati-hati kita telah terhimpun menjadi satu,
satu untuk cinta pada-Nya...
satu untuk taat pada-Nya...
satu untuk perjuangan di jalan-Nya...

Maka, tak ada masalah dengan pergi,
karena memang pasti ada yang harus pergi...
Tapi hati ini haruslah tetap di sini, janganlah pula ikut pergi...

Wednesday, August 22, 2012

Memang Seperti Itulah Dakwah..

Memang seperti itulah dakwah.

Dakwah adalah cinta.
Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu.
Sampai pikiranmu.
Sampai perhatianmu.

Berjalan, duduk, dan tidurmu..
Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah.
Tentang umat yg kau cintai..

Lagi-lagi memang seperti itu.
Dakwah.
Menyedot saripati energimu.
Sampai tulang belulangmu.
Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu.
Tubuh yg luluh lantak diseret-seret..
Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari..

-Ustadz Rahmat Abdullah-